Milenial Penginnya Rumah, Pengembang Bikinnya Rusun

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 01 Agu 2019 12:35 WIB
Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban
Jakarta - Kebanyakan dari perusahaan propeti beberapa tahun belakangan ini lebih cenderung membangun hunian bertingkat atau apartemen. Salah satu alasannya karena keterbatasan lahan di tengah kota.

Mereka menilai masyarakat perkotaan masih membutuhkan hunian yang dekat dengan kantornya. Sehingga apartement bisa menjadi pilihan.

Menurut Direktur Teknik dan Pengembangan Usaha PT Adhi Persada Properti (APP) Pulung Prahasto, pasar hunian tapak yang selama ini dilupakan justru digarap oleh pengembang-pengembang kecil. Oleh karena itu belakangan ini banyak muncul perumahan klaster kecil di pinggiran ibu kota.

"Dari hasil pengamatan saya, saat ini banyak pengembang terutama di Jabodetabek itu lebih cenderung memilih pengembangan apartemen. Memang ini tidak salah karena trend ke depan mungkin 10-30 tahun lagi akan jadi habit sebuah kota metropolis. Tapi saat ini mereka juga sedikit mengabaikan pasar landed house. Sehingga banyak developer kecil mengembangkan landed house yang diabaikan itu," ujarnya di JCC, Jakarta, Kamis (1/8/2019).


Padahal, rumah tapak akan terus ada peminatnya. Apalagi budaya Indonesia yang ketimuran memandang bahwa hidup harus memiliki rumah tapak yang nantinya diwariskan ke anak cucu.

Menurut Pulung bagi mereka yang baru bekerja atau baru menikah yang masuk dalam generasi milenial juga sebagian besar cenderung memilih rumah tapak. Oleh karena itu pihaknya sadar bahwa rumah tapak masih memiliki potensi yang besar.

"Apalagi bagi milenial yang belum punya rumah, mereka ingin punya rumah yang nginjek tanah. Ini kami tangkap sebagai peluang," ujarnya.

APP pun berniat untuk memperbesar produk hunian tapaknya. Sebelumnya porsi rumah tapak dari pengembangan bisnis APP hanya 15%. Kemudian hingga 2020 akan dikembangkan menjadi 30-35%.

"Hingha 2020 kami akan tambah 6 pengembangan baru 2 apartemen kampus dan 4 landed house," ujarnya.

Terdapat beberapa proyek hunian tapak yang kini tengah dikembangkan APP. Proyek tersebut antara lain Taman Dhika Sidoarjo Kota, Taman Dhika Batu Tulis dan yang terakhir adalah The Anggana Village.


Untuk Taman Dhika Batu Tulis, saat ini penjualannya sudah mencapai 60%. Dikembangkan di atas lahan seluas mencapai 10 Ha dengan jumlah hunian sebanyak 400 unit, kawasan hunian tapak di Bogor ini cukup mendapat respon positif dari masyarakat. Dipasarkan mulai harga Rp 670 juta, kawasan hunian ini menyediakan berbagi tipe sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Senada dengan Taman Dhika Batu Tulis, APP juga tengah mengembangkan hunian tapak di Sidoarjo, Jawa Timur. Hunian tapak yang membidik pasar kelas menengah di Surabaya dan sekitarnya ini, dikembangkan di lahan seluas 30 Ha, dengan harga jual mulai dari Rp700 juta-an. Total hunian yang akan dibangun mencapai lebih dari 1.200 unit dan penjualannya telah mencapai 70%.

Kawasan hunian yang dikembangkan oleh APP selanjutnya terletak di Cibinong, yaitu The Anggana Village, yang dibangun di lahan mencapai 8,5 Ha dan berdekatan dengan Stadion Pakansari dengan konsep Smart Living.


Milenial Penginnya Rumah, Pengembang Bikinnya Rusun


Simak Video "PRC: Tokoh Agama dan Masyarakat Tak Lagi Jadi Referensi Politik Milenial"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)