Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 06 Feb 2020 13:20 WIB

Bisnis Properti Lesu, Pengusaha: Harga-harga Tumbuhnya Melejit

Trio Hamdani - detikFinance
Jakarta masih jadi kawasan yang strategis untuk pengembangan bisnis properti. Tak heran pembangunan kawasan terpadu terintegrasi masih jadi andalan di masa kini Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Sekjen DPP Real Estate Indonesia (REI) Arman Nukman mengungkapkan bahwa daya beli masyarakat saat ini masih rendah dan menyebabkan industri properti tidak mampu tumbuh tinggi.

Rendahnya daya beli masyarakat membuat penjualan properti lesu. Pasalnya uang masyarakat habis untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat, sedangkan peningkatan penghasilan tak seberapa.

"Ya jadi kendala terbesar yang kita pahami bersama daya beli. Orang itu penghasilannya naiknya, kalau pun naik kan nggak besar. Sementara kenaikan harga-harga dan biaya-biaya tumbuhnya melejit jauh," kata dia di Sapo Del Tower, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Berdasarkan hasil diskusi antar pengembang yang tergabung di REI, dia menjelaskan uang bulanan masyarakat habis untuk biaya tempat tinggal, konsumsi untuk hidup sehari-hari, belum lagi kalau ada biaya pendidikan.

"Nah itu saja sudah menelan hampir seluruh penghasilannya," sebutnya.

Sedangkan dulu, dia menyatakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat hanya menghabiskan 2/3 dari penghasilannya dan masih sisa 1/3 untuk mencicil rumah.

"Sementara kalau sekarang (ada) cicilan motor, kalau nyicil mobil, nyicil handphone, itu kan menghabiskan juga penghasilan bulanan. Jadi ujung-ujungnya kalau dalam bahasa sederhana itu menurunnya daya beli," tambahnya.

Bisnis Properti Lesu, Pengusaha: Harga-harga Tumbuhnya Melejit


Simak Video "Menkeu Kucurkan Triliunan untuk Diskon Tagihan Listrik Warga 3 Bulan"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com