Jadi Calon Pemimpin Ibu Kota Baru, Ahok Perlu Lepas Pertamina?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 08 Mar 2020 06:50 WIB
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ikut menghadiri peresmian implementasi program biodiesel 30% atau B30 di SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin (23/12/2019). Komisaris Utama Pertamina jadi rebutan foto bersama pegawai SPBU.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina Basuki Tjahja Purnama alias Ahok masuk ke dalam bursa calon Kepala Badan Otorita Ibu Kota Negara Baru. Ahok kini bersaing dengan 3 nama lain, seperti Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dan Dirut PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Tumiyana.

Lalu, apabila Ahok betul-betul dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru, apakah Ahok perlu melepas jabatan komisaris di Pertamina?

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengatakan urusan rangkap jabatan atau tidak ditentukan oleh Menteri BUMN dan Presiden Joko Widodo. Namun, Said menilai Ahok adalah anak emas Jokowi, kemungkinan merangkap jabatan pun besar. Toh merangkap jabatan juga tak melanggar aturan.

"Tidak ada aturan memang yang mengatur, tinggal sesuai dengan Menteri BUMN dan Presiden. Saya yakin karena dia anak emasnya Presiden ya bisa saja dirangkap. Nggak ada aturan juga yang dilanggar," kata Said.

Namun dia menyarankan agar Ahok jangan merangkap jabatan apabila terpilih jadi pimpinan ibu kota baru. Karena dia menilai jabatan ini sangat berat.

"Yang jelas pekerjaan otorita ini berat banget, rangkap jabatan ini berat sekali. Sebaiknya tidak dirangkap," sebut Said.

Figur Ahok dalam bursa calon pemimpin ibu kota baru memang membuat polemik. Kritik pun banyak dilontarkan, seperti apa?

Menurut Said, Ahok kurang cocok jadi pemimpin ibu kota baru karena tidak ada bukti sukses Ahok membangun sebuah kota dari nol.

"Publik pertanyakan tiga hal, satu nggak ada bukti nyata Ahok sukses membangun ibu kota. Mengelola Jakarta saja kemarin banyak gagal. Sekarang disuruh membangun. Tidak ada success story sama sekali," kata Said.

Kemudian dia menilai kontroversi Ahok sangat tinggi selama memimpin Jakarta. Dia menyebut bahwa di Jakarta saja Ahok meninggalkan segudang masalah yang tak jelas ujungnya, mulai dari kasus TransJakarta hingga kasus reklamasi.

"Kedua bahwa kontroversi Ahok sangat tinggi. Kayak kasus TransJakarta, Sumber Waras, soal reklamasi. Itu kontroversi yang ditinggalkan," kata Said.

Meski begitu, Ahok tetap mendapat dukungan masuk bursa Kepala Badan Otorita Baru. Salah satunya diungkapkan oleh ekonom Faisal Basri.

Menurutnya kredibilitas Ahok tidak perlu dipertanyakan. Dia menilai Ahok pasti akan melepas jabatannya di Pertamina apabila terpilih jadi pimpinan ibu kota baru.

"Saya sih mendukung 110%, yang jelas saya mendukung sepenuhnya Ahok. Anda nggak usah nanya gitu udah pastilah dilepas (jabatan Komut Pertamina)," tutur Faisal ditemui di ITS Tower, Jumat (6/3/2020).

(eds/eds)