Penjualan Rumah di Inggris Disetop Gara-gara Corona

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 30 Mar 2020 10:03 WIB
Few people stroll along a main shopping street at Regent Street after the Prime Minister said that Covid-19 is the worst public health crisis for a generation, in London Saturday March 14, 2020. For most people, the new COVID-19 coronavirus causes only mild or moderate symptoms, but for some it can cause more severe illness. (Rick Findler/PA via AP)
Ilustrasi/Foto: Rick Findler/PA via AP
Jakarta -

Virus corona telah mengganggu sebagian besar kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Tak terkecuali pembelian dan penjualan rumah di Inggris.

Di Inggris, penyedia hipotek telah mengumumkan akan memperpanjang penawaran hipotek mereka hingga tiga bulan ke depan bagi pembeli rumah yang telah menandatangani kontrak.

Pemerintah Inggris mengatakan, penyewa rumah dan pembeli harus menunda pindah ke rumah baru, bahkan jika penjualan telah selesai. Tidak berhenti sampai di situ, untuk sementara calon pembeli juga tidak boleh mengunjungi properti.

"Tidak perlu menarik diri dari transaksi, tetapi kita semua perlu memastikan bahwa kita mengikuti panduan untuk tetap di rumah dan jauh dari yang lain setiap saat," kata pemerintah dalam pernyataannya yang dilansir dari CNN Business, Senin (30/3/2020).

Akibat pandemi virus corona, aktivitas penjualan rumah di Inggris menurun secara signifikan. Berdasarkan laporan portal real estat Zoopla, permintaan dari pembeli per 22 Maret 2020 turun 40% dari tujuh hari sebelumnya.

"Dampak awal dari guncangan eksternal adalah mengurangi kepercayaan konsumen dan mengerem permintaan perumahan dan jumlah orang yang pindah rumah," kata Direktur Penelitian dan Wawasan di Zoopla, Richard Donnell.

Pemberi pinjaman juga mungkin kurang bersedia untuk menawarkan hipotek karena banyak pelanggan akan mengalami perubahan pendapatan secara dramatis selama beberapa bulan ke depan sebagai akibat dari pandemi.

Mengantisipasi pukulan besar-besaran terhadap ekonomi dan tenaga kerja Inggris, pemerintah akan memberikan subsidi dengan memberikan 80% gaji pekerja untuk tiga bulan ke depan. Jumlah maksimalnya sekitar US$ 2.900 per bulan atau setara Rp 46,4 juta per bulan (kurs Rp 16.000/US$), jumlah ini diambil dari nilai upah minimum di Inggris.

Lloyds Banking Group mengatakan pihaknya sedang menyesuaikan beberapa penawaran produk untuk mengelola situasi ini. Untuk sementara waktu, produk hipotek akan ditarik. Meski begitu, pelanggan masih dapat mengajukan permohonan hipotek melalui online.

Bank-bank di Inggris juga telah setuju untuk menunda pembayaran hipotek hingga tiga bulan ke depan untuk orang-orang yang terkena virus corona.



Simak Video "Walau Kasus Corona Tinggi, Inggris Tak Mau Lockdown Total"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)