Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 08 Apr 2020 13:25 WIB

Di Pasar Properti, Hotel Paling Babak Belur Dihajar Corona

Soraya Novika - detikFinance
ilustrasi hotel penerbangan pelayaran gerhana matahari total Foto: Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Merebaknya pandemi virus Corona telah menghantam setiap lapisan ekonomi. Tak terkecuali lini bisnis properti terutama untuk industri hotel. Industri ini disebut-sebut sebagai industri yang paling terpuruk karena penyebaran wabah tersebut.

"Ini salah satu sektor yang paling banyak terdampak dengan adanya pandemi ini. Kita bisa lihat beberapa hotel sudah mulai tutup dan ada beberapa hotel yang dialihkan fungsinya menampung pekerja medis," ujar Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto, Rabu (8/1/2020).

Berdasarkan laporan riset Colliers International soal Pasar Properti Jakarta dan Hotel Bali untuk Kuartal I-2020, tingkat okupansi hotel di Jakarta hingga Februari 2020 sebenarnya masih menunjukkan peningkatan dari rata-rata 58% menjadi 60%.

Akan tetapi, mulai terasa sangat menurun di bulan Maret 2020 saat pemerintah mengumumkan kasus ini di Indonesia. Akan tetapi, Colliers International mengaku belum merangkum data terbaru hingga Maret 2020 lalu.

Dari sisi harga sewa sendiri memang sudah ada kecenderungan penurunan harga sejak Februari lalu. Pada bulan itu, terlihat hotel-hotel di Jakarta banyak yang mulai menurunkan harga sewanya dari rata-rata US$ 62 setara Rp 992.000/malam (kurs Rp 16.000/US$) menjadi US$ 60 atau Rp 960.000/malam.

"Kalau kita lihat okupansinya, di Jakarta data yang kita dapatkan baru sampai Februari. Data sampai awal Februari di Jakarta, memang ada kegiatan korporasi. Occupancy rate-nya masih dalam tahap yang sama. Tapi di Maret kami prediksi akan turun dan polanya tak lagi ngikutin yang sudah-sudah, dan sudah banyak diskon-diskon," paparnya.

Menurut Ferry, industri hotel di Bali malah sudah menunjukkan penurunan tingkat hunian dan harga sewa secara drastis sejak Februari 2020 lalu. Tingkat okupansi hotel di Bali turun dari rata-rata 70% menjadi 50%. Demikian pula harga sewa, turun dari rata-rata US$ 125 atau setara Rp 2 juta menjadi US$ 90 atau setara Rp 1,44 juta.

"Di Bali turunnya drastis bahkan tingkat hunian di Februari sudah turun cukup drastis. Karena kalau kita lihat data pariwisata, Bali itu paling terdampak karena sudah ada penurunan kunjungan dari wisatawan dari China bahkan dari Australia. Dengan turunnya jumlah wisatawan China dan Australia kita bisa lihat jumlah ini turunnya drastis dan ini tidak mengikuti pola yang ada selama ini," sambungnya.

Melihat perkembangan data sampai Februari 2020 lalu, Ferry meyakini sepanjang Maret 2020 lalu penurunannya bisa lebih signifikan lagi sebab kunjungan domestik yang turut menurun.

"Kita bisa bayangkan sampai Maret kondisinya pasti lebih turun lagi. Bagaimana tren ke depannya, baik itu tingkat hunian, maupun harga itu akan turun. Harga itu turun sudah terlihat karena sekarang ini banyak sekali paket wisata di Bali yang ditawarkan dengan harga sangat murah. Mereka sudah mulai banting-bantingan harga. Memang pilihannya ada dua, tetap beroperasi atau tutup sementara," pungkasnya.



Simak Video "Dievakuasi Petugas, Pasien Corona di Mamuju Disemangati Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com