Warga China Diminta Rem Beli Rumah, Perbanyak Belanja

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 22:15 WIB
Susahnya orang Indonesia beli rumah
Foto: Luthfy S
Jakarta -

Pemerintah China sedang mengerem pergerakan harga properti, dan memangkas ketersediaan pinjaman hipotek untuk mengalihkan pengeluaran masyarakat, dari membayar cicilan kredit rumah kepada aktivitas berbelanja. Hal ini dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan konsumsi, sehingga bisa merangsang ekonomi yang terdampak virus Corona (COVID-19).

Sejak akhir Juni 2020, rasio leverage rumah tangga di China melonjak ke rekor tertinggi. Hal ini terjadi karena lonjakan pinjaman hipotek setelah pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan properti demi mendongkrak perekonomian.

Memang, beban cicilan properti untuk rumah tangga China melonjak tinggi yang pada akhirnya mengganggu konsumsi swasta. Implikasinya, pendapatan perumahan anjlok ke wilayah negatif tahun ini.

Memasuki Agustus, Presiden Xi Jinping berupaya mendongkrak pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan properti secara beriringan. Namun, hal itu sulit dilakukan. Pasalnya, kini harga properti menurun tajam, yang bisa menghancurkan sentimen konsumen. Tentunya hal ini berlawanan dengan apa yang pemerintah harapkan.

"Pasar properti China semakin membatasi kemampuan pembelanjaan. Mereka yang harus mengencangkan ikat pinggang untuk membayar uang muka atau cicilan adalah orang-orang dengan kecenderungan paling marjinal untuk mengkonsumsi, demografis yang kritis terhadap peralihan China ke ekonomi yang dipimpin konsumsi," ," kata Analis Senior di China Minsheng Bank Wang Jingwen seperti yang dilansir dari Reuters, Selasa (29/9/2020).

Akademi Ilmu Sosial China (CASS) pada tahun 2019 melaporkan, pasar properti China belum memberikan kontribusi bersih terhadap ekonomi sejak 2018. Pasalnya, kala itu rumah menjadi sangat mahal sehingga hanya menyisakan sedikit uang untuk belanja rumah tangga.

Pada tahun lalu juga, Bank Sentral China mengatakan, setiap kenaikan 1% dalam rasio utang rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) negara itu, maka akan memangkas pertumbuhan penjualan ritel sebesar 0,3%. Berdasarkan data CASS, Rasio naik menjadi 59,7% pada akhir Juni, dari 55,8% pada akhir 2019,

Di saat yang sama, pendapatan rumah tangga , turun 1,3% semester I-2020 ini, dibandingkan dengan kenaikan 5,8% pada 2019.

Namun, di bulan Agustus, untuk pertama kalinya tahun ini, penjualan ritel tumbuh 0,5% secara year on year.

"Pemerintah bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar properti, tetapi akan tetap bergerak dalam batas tertentu, untuk mencegah kenaikan atau penurunan harga yang drastis," kata Analis Senior Centaline Lu Wenxi.

Ketika China mengalami kontraksi ekonomi, pemerintah segera melonggarkan pembatasan di pasar properti, yang menyumbang seperlima dari PDB China. Namun, pada akhirnya utang hipotek membengkak, dengan pinjaman rumah tangga kelas menengah ke atas mencapai rekor di bulan Juli.

Bukannya membiarkan pasar properti melambung lebih jauh, kebijakan pemerintah justru membuat harga semakin rendah. Sementara, dalam beberapa bulan terakhir harga properti sempat tumbuh, meski di bawah 5% secara year on year. Reuters memperkirakan harga rumah di China tumbuh 4,8% tahun ini, dan menurun 3% di tahun 2021.

Para ekonom mengatakan rasio utang rumah tangga akan terus tumbuh karena rumah baru dibangun di tengah urbanisasi dan pembaruan perkotaan, tetapi dengan kecepatan yang lebih sejalan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi lainnya.

"Kuncinya adalah memberi orang uang untuk dibelanjakan. Dulu karena model ekonomi kita, modal berkontribusi lebih besar pada pertumbuhan ekonomi, dan kita menikmati porsi distribusi yang lebih besar. Orang kaya semakin kaya, dan bank menghasilkan banyak uang. Ke depannya, kita harus menyesuaikan kontribusi faktor-faktor utama dan membiarkan pendapatan pekerja mendapat bagian yang lebih besar," kata Penasihat Kabiner Yao Jingyuan.

(dna/dna)