Ada Bahaya Mengintai di Balik Anjloknya Harga Properti Kala COVID

Nadhifa Sarah Amalia - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 16:45 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Tahun ini, harga real estat komersial anjlok karena orang-orang berhenti pergi ke kantor. Ini juga membuat bisnis ritel terganggu. Penurunan-penurunan ini dapat menyebabkan sejumlah besar kerugian bagi bank.

Menurut laporan Adam Slater dari Oxford Economics, penurunan sebelumnya membuat kerugian pinjaman properti komersial yang 'berat' dan terdapat tanda-tanda bahwa tren tersebut akan terulang kembali selama pandemi COVID-19 masih berlangsung.

Bahkan, skenario terburuk menurut Slater, adalah kerugian pinjaman tersebut akan mengikis modal bank secara material. Ini menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan.

Dilaporkan, indeks perusahaan untuk harga real estat komersial global menunjukkan penurunan hingga 6% dari tahun lalu berdasarkan tujuh pasar besar.

"Penurunan harga (real estat komersial) yang besar biasanya menyebabkan kerugian besar bagi bank. Penghapusan pinjaman (real estat komersial) memberikan kontribusi besar terhadap kerugian bank secara keseluruhan dalam dua penurunan besar terakhir," tulis Slater dalam laporannya, dikutip dari CNBC, Senin (26/10/2020).

Kali ini, risiko krisis keuangan terlihat paling tinggi di negara Amerika Serikat, Australia dan sebagian Asia seperti Hong Kong dan Korea Selatan. Hal ini dikarenakan adanya pertumbuhan pinjaman yang tinggi dengan exposure pinjaman yang signifikan, namun harga properti komersial yang sudah merosot.

Sedangkan di Singapura, penyewaan kantor mengalami penurunan paling tajam selama 11 tahun terakhir pada kuartal ketiga. Data resmi menunjukkan bahwa sewa ruang kantor turun hingga 4,5% pada kuartal terakhir hingga bulan September.

"Saat ini, hotel beroperasi dengan tingkat hunian yang sangat rendah, unit ritel mengalami penurunan tajam dalam jumlah pelanggan, dan banyak kantor tutup atau berjalan dengan tingkat staf yang sangat rendah," Tulis Slater.

"Dalam keadaan ini, pendapatan sewa dan pembayaran utang dari sektor yang terkena dampak sangat diragukan," lanjutnya.

Hal ini tentu berdampak kepada investor. Di Amerika Serikat, sekitar setengah dari pinjaman tidak dilakukan melalui pinjaman bank yang termasuk penerbitan obligasi di sektor tersebut. Sedangkan di beberapa bagian Eropa dan Asia, proporsi pinjaman melalui sektor non-bank telah meningkat hingga lebih dari 25% dalam beberapa tahun terakhir.

"Dalam kasus dana properti, penurunan (real estat komersial) dapat menyebabkan desakan investor untuk menebus kepemilikan mereka yang menyebabkan kebakaran penjualan aset - memperkuat penurunan harga dan kerugian pinjaman yang lebih luas," tutup dia.

(dna/dna)