Pasar Over Suplai, Kenaikan Harga Rumah Baru di China Melambat

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 14 Des 2020 13:39 WIB
Pembangunan rumah sakit untuk pasien virus corona jenis baru di Wuhan, China, terus dikebut. Rumah sakit itu ditargetkan selesai dibangun 5 Februari mendatang.
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Kenaikan Harga rumah baru di China masih tercatat sangat rendah di November. Bahkan, tingkat kenaikan di November menjadi yang terendah sejak Maret.

Dilansir dari Reuters, Senin (14/12/2020), berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, rata-rata harga rumah baru pada 70 kota besar di China hanya naik 0,1% pada bulan November dari bulan sebelumnya.

Pertumbuhan harga itu masih lebih rendah di banding tingkat kenaikan harga pada bulan Oktober yang mencapai 0,2%.

Padahal, pada waktu yang sama di tahun sebelumnya tingkat kenaikan harga rumah baru mencapai 4% pada November. Sementara, di bulan Oktobernya mencapai 4,3%.

Data juga menunjukkan jumlah kota yang melaporkan kenaikan harga rumah baru bulanan turun hanya menjadi 36 kota. Sementara di bulan Oktober ada 45 kota yang harga huniannya naik.

Analis Zhang Dawei dari agen properti Centaline menghubungkan momentum pelemahan harga ini dengan kebijakan pengetatan pasar yang ditingkatkan oleh otoritas setempat. Di sisi lain, para pengembang terus memberikan pasokan rumah dengan berbagai diskon untuk meningkatkan penjualan sampai akhir tahun.

Pasar properti China sendiri disebut telah pulih dengan cepat dari pandemi COVID-19, penjualan rumah dan investasi tumbuh dengan kecepatan tinggi.

Kenaikan harga rumah baru ini juga dilihat tidak merata. Semua terkonsentrasi di Delta Sungai Mutiara bagian selatan dan Delta Sungai Yangtze bagian timur. Kemudian di bagian utara, beberapa kota justru mengalami permintaan yang merosot setelah lonjakan awal.

Pemerintah di provinsi Heilongjiang telah meminta pengembang untuk menurunkan harga. Sedangkan di Binzhou, provinsi Shandong berencana untuk mendistribusikan kupon real estat untuk membantu mengimbangi pajak pembelian rumah.

Regulator perbankan China baru-baru ini menyoroti sektor properti sebagai risiko signifikan terhadap stabilitas keuangan. Mereka mencapnya sebagai badak abu-abu, dengan artian ancaman yang jelas namun diabaikan.

Ketika ekonomi pulih ke pijakan yang lebih kokoh, analis memperkirakan pemerintah akan melanjutkan sikap tegasnya terhadap sektor ini, dengan peningkatan pengawasan pada aktivitas pembiayaan baik pengembang dan pembeli untuk mencegah pertumbuhan pinjaman yang merajalela.

"Kami memperkirakan kebijakan pasar real estat pada 2021 akan sedikit lebih ketat daripada tahun ini," kata Xie Chen, kepala penelitian di CBRE China.

Chen memperkirakan konstruksi dan penjualan rumah baru akan sedikit turun jumlahnya pada tahun 2021. Sementara harga rumah kemungkinan besar akan tetap stabil.

(eds/eds)