RK Sangsi Silicon Valley Bukit Algoritma Cuma Gimmick, Pengembang Jawab Ini

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 14 Apr 2021 15:49 WIB
Bukit Algoritma disebut bakal menjadi Silicon Valley-nya Indonesia. Area ini ada di kawasan ekonomi khusus untuk pengembangan teknologi dan industri 4.0.
Foto: Syahdan Alamsyah/Detikcom
Jakarta -

Proyek kawasan ekonomi khusus (KEK) Bukit Algoritma disebut-sebut akan menjadi 'Silicon Valley'-nya Indonesia. Namun banyak yang menyangsikan proyek itu hanya gimmick belaka, salah satunya dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Pihak Bukit Algoritma pun buka suara menanggapi hal itu. Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko, yang sekaligus juga memimpin proyek tersebut menepis tanggapan itu.

"Pertama saya bukan ahli gimmick. Beberapa pekerjaan saya di masa lalu juga bukan gimmick," tegasnya kepada detikcom, Rabu (14/4/2021).

Kedua, lanjut Budiman, proyek Bukit Algoritma juga juga sudah memiliki seluruh aspek. Mulai dari sumber daya manusia (SDM) seperti peneliti, tanah, investor dan pasarnya.

Bukit Algoritma sendiri dibesut oleh PT Amarta Karya (Persero) atau Amka, PT Bintang Raya Lokalestari dan Kiniku Bintang Raya KSO.

Proyek ini akan dibangun di lahan seluas 888 ha di Cikidang dan Cibadak Sukabumi. Amarta Karya bertindak sebagai mitra yang membangun Bukit Algoritma, sedangkan Bintang Raya Lokalestari sebagai pemilik lahan.

Untuk tahap awal pembangunan selama tiga tahun ke depan, nilai total proyek diperkirakan bakal menghabiskan 1 miliar euro atau setara dengan Rp 18 triliun.

Untuk SDM sendiri menurut Budiman ada anak-anak Indonesia yang lulusan Silicon Valley juga sudah berminat untuk ikut berpartisipasi dalam Bukit Algoritma. Selain itu dia juga mengumpulkan putra-putri bangsa lulusan luar negeri dan dalam negeri yang fokus dalam teknologi dan riset.

"Saya sedang kumpulkan, banyak ada 200-an lebih. Mereka butuh pulang ke Indonesia. Mereka dapat beasiswa tapi mereka bingung pulang ilmunya kepake nggak? Saya bilang kepake nanti asal berkoneksi dengan desa-desa yang nanti akan beli produk inovasi kamu, dan diharapkan desa berinvestasi pada kecerdasan dan keahlianmu," terangnya.

Budiman mengatakan di Bukit Algoritma pihak yang menampung hasil risetnya adalah desa. Saat ini desa sangat membutuhkan teknologi pertanian, perikanan hingga penerapan IT.

Oleh karena itu Bukit Algoritma bisa menjadi tempat untuk memproduksi inovasi yang dibutuhkan desa tersebut. Apalagi saat ini desa diberikan dana desa untuk perkembangan di daerahnya.

"Dengan adanya dana desa, kan desa punya daya beli. Bukan cuma daya beli produk inovasinya, bahkan kira rasang desa-desa untuk berinvestasi juga mengembangkan lembaga riset. Kita mau buat menara bumdes di sini, tepat dimana R&D dari perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh bumdes," terangnya.

Sebelumnya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ikut mengomentari terkait proyek Bukit Algoritma yang disebut bakal jadi Silicon Valley Indonesia. Dia berharap proyek yang akan dibangun di Sukabumi itu tidak hanya sekedar gimmick semata.

Pria yang akrab disapa Kang Emil mengatakan ada beberapa syarat agar proyek Silicon Valley berhasil. Seperti di Amerika Serikat, kata dia, kesuksesan Silicon Valley karena integrasi industri, finansial dan institusi.

"Kenapa Silicon Valley sukses? Saya kasih tahu, karena di sana (Amerika Serikat) ada kumpulan universitas berdekatan dengan kumpulan industri, berkumpul dengan finansial institusi. Kalau tiga poin tadi tidak hadir dalam satu titik, yang namanya istilah Silicon Valley itu hanya 'gimmick-branding' saja," kata Kang Emil di Trans Luxury Hotel, Kota Bandung, Senin (12/4/2021).

"Tapi kalau bisa membuktikan tiga komponen itu hadir, ada universitas untuk riset, ada industri yang mengambil riset jadi barang, jadi inovasi dan ada pembiayaannya ada investor. Ada macam-macam," kata pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Meski begitu, Kang Emil mendukung upaya dari perusahaan pelat merah PT Amarta Karya (Persero) tersebut. "Niatnya saya respons, saya dukung, tapi hati-hati kepada semua orang yang sedikit-sedikit bilang mau bilang bikin Silicon Valley, ukurannya ada tiga yang tadi," ujarnya.

(das/zlf)