Jangan Asal! Ini Hal yang Harus Diperhatikan saat Bangun Rumah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 18 Agu 2021 19:45 WIB
Pembangunan perumahan di sejumlah daerah masih terus berjalan terlihat seorang pekerja sedang memantau proyek rumah di Palembang, beberapa pekan lalu.  PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus memberikan komitmennya untuk mendukung pembiayaan pembangunan perumahan yang dibangun dalam rangka program sejuta rumah tahun 2019. Sampai dengan Agustus 2019 tercatat telah disalurkan kredit konstruksi pembangunan perumahan sekitar Rp26,046 Triliun atau naik sekitar 11,64% dari posisi 2018 sebesar Rp25,422 Triliun.
Foto: dok. BTN
Jakarta -

Memiliki rumah atau hunian merupakan impian banyak orang. Apalagi di tengah pandemi yang membuat orang harus bisa bekerja dari rumah. Pemerintah bahkan telah memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) lalu Bank Indonesia juga memberikan relaksasi uang muka 0% untuk pembelian rumah. Hal ini demi mendorong masyarakat agar memiliki hunian.

Tapi dalam proses membeli atau membangun rumah dibutuhkan pengetahuan yang cukup agar bangunan bias berkualitas baik dan tak hanya bagus di tampak luarnya saja.

Menurut SCG calon pemilik rumah harus memperhatikan karakteristik lingkungan. Misalnya apakah lingkungan aman dari bencana, baik longsor maupun banjir. Tanah juga harus diperhatikan bukan tanah basah seperti bekas rawa, sawah, atau lahan gambut karena diperlukan waktu dan biaya lebih untuk membuat lahan tersebut menjadi kering dan siap untuk dibangun.

Meski demikian, apabila Anda tetap memilih lingkungan seperti ini karena pertimbangan lain, sebaiknya Anda punya rencana untuk mengantisipasi dampak lingkungan di kemudian hari. Kondisi tanah yang basah dapat meningkatkan risiko kebocoran pada pondasi rumah, sehingga Anda perlu tahu strategi penambalan celah di tempat rembesan air tersebut.

Selanjutnya konstruksi yang simetris. Ketika struktur konstruksi bangunan tidak simetris, maka pondasi akan rentan mengalami keretakan. Penyebab lainnya adalah adukan cor beton yang terlalu cepat mengering yang bisa membuat keretakan saat pengaplikasian maupun retak di kemudian hari. Jika keretakan ini tidak ditangani dengan tepat, maka masalah ini dapat menyebabkan keruntuhan pada pondasi.

Kemudian pemilihan material konstruksi yang tepat dan berkualitas. Tepat dalam artian konsumen harus memilih dan mampu memperhitungkan komposisi bahan yang akan menjadi bagian tetap (bahan permanen) pada struktur bangunan (contohnya semen, pasir, kerikil, baja, beton, dan lain-lain) dan bahan pendukung lainnya yang esensial namun bukan menjadi bagian tetap pada bangunan (bahan sementara).

Country Director SCG di Indonesia, Wiroat Rattanachaisit mengungkapkan SCG berupaya memberikan solusi untuk kesulitan pemilik rumah selama proses pembangunan. Banyak konsumen yang terpaku pada bahan baku bangunan konvensional karena belum memahami inovasi bahan baku lainnya.

Padahal bahan bangunan siap pakai atau produk instan ini bisa membuat lebih efisien. "Seiring perkembangan teknologi dan uji coba material yang konstan kami lakukan, kami menciptakan transformasi pada material berbahan dasar semen sehingga lahirlah bahan bangunan siap pakai atau disebut juga produk instan, seperti semen instan dan beton instan," ujar dia.

Menurut dia bagi konsumen yang berencana membangun rumah sendiri, pemilihan jenis dan kuantitas bahan bangunan tentu sangat berguna untuk efisiensi anggaran. Wiroat memaparkan, meski sudah melakukan estimasi kebutuhan konstruksi, seringkali ada material yang menjadi sisa (construction waste) sehingga tidak efisien secara ekonomi maupun lingkungan.

Inovasi bahan bangunan instan dari SCG Indonesia memungkinkan pengguna untuk merasakan kemudahan dalam proses pengadukan bahan-bahan homogen serta pengaplikasiannya. Dengan demikian, pengguna bisa merasakan dan menilai karakteristik material bangunan yang berkualitas untuk konstruksi yang lebih baik. Material dengan kemasan dan takaran yang tepat akan memudahkan proses logistik khususnya apabila proyek konstruksi terletak di daerah yang sulit dijangkau oleh truk besar.

SCG memahami, properti adalah aset yang sangat berharga dan termasuk kelas aset non-likuid, sehingga konsumen harus memiliki wawasan yang mumpuni dalam mengambil keputusan. Beberapa tahun terakhir, banyak wacana yang mengangkat tantangan dan perjuangan generasi milenial dalam memiliki rumah, sehingga, rencana membeli rumah adalah cerita membangun mimpi tersendiri bagi generasi ini.

"Dalam waktu dekat, SCG melalui unit bisnis Cement-Building Materials (CBM) berencana menghadirkan versi baru dari bahan bangunan instan kami. Ini merupakan bentuk komitmen kami untuk menjawab kebutuhan fundamental dari material konstruksi dengan berinovasi pada produk semen siap pakai yang dapat memenuhi kebutuhan semua kalangan untuk mewujudkan hunian yang aman, nyaman, serta ramah lingkungan. Kami siap memberikan nilai tambah untuk masyarakat," jelasnya.



Simak Video "Di Balik Alasan Muhammadiyah Bangun Rumah Sakit di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)