4 Biang Kerok Puluhan Juta Rumah di RI Nggak Layak Huni

Trio Hamdani - detikFinance
Sabtu, 21 Agu 2021 06:00 WIB
Kementerian PUPR membangung rumah khusus nelayan di NTB. Sebelum ada rumah khusus, nelayan tinggal di rumah gubuk yang reot. Yuk lihat foto-foto sebelum dan sesudah ada rumah khusus nelayan.
Ilustrasi/Foto: Dok. Kementerian PUPR
Jakarta -

Masyarakat Indonesia masih banyak yang tinggal di rumah tak layak huni. Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) masih ada 29,45 juta rumah yang tidak layak huni. Apa penyebabnya?

1. Pengeluaran untuk Perawatan Rumah Rendah

Direktur Rumah Swadaya Kementerian PUPR K.M. Arsyad mengatakan partisipasi masyarakat dalam menyiapkan rumah layak huni secara swadaya masih rendah. Berdasarkan data BPS porsi pengeluaran untuk pemeliharaan rumah hanya 0,82%. Itu berdasarkan data Maret 2021.

"Saya yakin mungkin masih banyak kebutuhan lain yang diperlukan oleh rumah tangga sehingga pengeluaran untuk pemeliharaan rumah itu hanya 0,82%, jumlah yang tentunya sangat sedikit," katanya dalam webinar, Jumat (20/8/2021).

2. Harga Rumah Mahal

Kementerian PUPR mengungkap bahwa masalah pada pemenuhan rumah di Indonesia masih sama dari tahun ke tahun. Bahkan sejak era Bapak Perumahan Mohammad Hatta hingga sekarang masalahnya sama, yakni mahalnya harga rumah.

"Saya coba menyuplik apa yang disampaikan Bapak Perumahan kita Mohammad Hatta pada kongres perumahan kedua 'kebutuhan dasar manusia itu adalah rumah murah dan sehat'. Jadi kalau bahasa kita sekarang adalah rumah yang terjangkau," kata Arsyad.

Dia kembali mengutip pernyataan Bung Hatta, yakni membangun rumah rakyat yang menjamin kesehatan dan kesenangan diam di dalamnya dan harus murah harganya.

"Itulah masalah yang saya pikir dari sejak 1952 sampai sekarang kita masih berhadapan dengan masalah ini," sebutnya.

Masih ada dua biang kerok lainnya. Langsung klik halaman berikutnya