Di Hadapan Mahfud MD, Emil Salim Kritik Pemindahan Ibu Kota

Trio Hamdani - detikFinance
Sabtu, 28 Agu 2021 11:15 WIB
Prof. Dr. Emil Salim seorang ahli ekonomi, cendekiawan, pengajar, dan politisi Indonesia.
Emil Salim/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ekonom senior dan Guru Besar UI Emil Salim mengkritisi sikap pemerintah yang merencanakan anggaran besar untuk persenjataan dan pemindahan ibu kota. Sebab, keuangan negara sedang mengalami tekanan yang berat.

Bahkan Emil berempati kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Sebab, menurutnya bendahara negara tersebut pasti pusing memikirkan hal tersebut.

"Saya berempati dengan Menteri Keuangan yang pusing kepala, tetapi banyak dari teman-teman kita di departemen kurang paham bahwa pengeluaran menjadi terbatas sehingga berbagai pengeluaran seperti pembelian senjata, ibu kota negara dan macam-macam, berjalan seolah-olah keuangan itu tersedia banyak, padahal tidak. Ini bakal menyulitkan pengelolaan keuangan negara," katanya dalam keterangan resmi Kemenkopolhukam, dikutip Sabtu (28/8/2021).

Emil menyampaikan hal tersebut saat menghadiri undangan dari Menko Polhukam, Mahfud MD. Mahfud mengundang sejumlah tokoh senior dari kalangan intelektual, mantan pejabat, dan aktivis masyarakat sipil untuk berdialog secara virtual pada Kamis (26/8) malam. Mereka yang hadir termasuk Emil Salim.

Dialog tersebut adalah kelanjutan dari rangkaian pertemuan Menko Polhukam dengan berbagai unsur masyarakat, untuk mendengarkan masukan sekaligus menjelaskan pilihan kebijakan yang ditempuh pemerintah, khususnya di bidang politik, hukum, dan keamanan.

"Saya tahu para senior dan sahabat semua adalah orang-orang yang sikapnya jelas terhadap upaya perbaikan bangsa, karena itu saya ingin banyak mendengar tentang apa saja yang perlu menjadi catatan penting saya, baik terkait penegakan hukum, politik, maupun masalah keamanan, dan masalah-masalah lain yang mungkin perlu ditangani pemerintah" ujar Mahfud mengawali dialog.

Para tokoh yang hadir, yakni Emil Salim, Kuntoro Mangkusubroto, Goenawan Mohamad, Abdillah Toha, Bagir Manan, Faisal Basri, dan Laode M. Syarief. Hadir pula Erry Riyana Hardjapamekas, Muhammad Nuh, Rhenald Kasali, Halim Alamsyah, Alwi Shihab, Nadirsyah Hosen, Al Hilal Hamdi, Khairil Anwar Notodiputro, dan Hikmahanto Juwana.

"Apa yang disampaikan, baik itu kritik, keluhan, atau masukan, pada umumnya senada, dan sebagian besar sudah diketahui pemerintah. Masalahnya sekarang, kita harus menemukan peta jalan untuk mengurai dan membenahi semua masalah itu, dan untuk itu kontribusi dari bapak-bapak sangat diperlukan," ujar Mahfud MD menjawab kritik para tokoh.

(toy/ara)