Deretan Raksasa Properti China yang Lagi Sekarat Dikejar Utang

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 13 Okt 2021 11:56 WIB
Raksasa properti China, Evergrande tengah disorot karena terancam bangkrut imbas kesulitan bayar utang. Sang pendiri perusahaan, Xu Jiayin pun ikut jadi sorotan
Foto: AP Photo
Jakarta -

Krisis Evergrande mengguncang pasar global sejak mereka mengumumkan dapat gagal membayar utangnya yang besar. Sejak itu, banyak pengembang ikut membuat pengakuan publik serupa, membuat investor takut dan meningkatkan kekhawatiran penularan di sektor yang lebih luas.

Belum jelas bagaimana krisis akan diselesaikan. Perusahaan dapat mencoba merestrukturisasi utang mereka dan menyelesaikan masalah dengan pemberi pinjaman. Mereka juga bisa mencari dana talangan dari pemerintah China, tetapi sejauh ini pemerintah belum banyak bicara tentang masalah ini selain berjanji melindungi pembeli rumah.

Opsi terakhir, dan terburuk, ini akan menjadi serangkaian kegagalan yang tidak teratur, yang akan mengirimkan gelombang kejutan di seluruh ekonomi China, atau bahkan mungkin di luarnya.

Setidaknya, empat pengembang telah mengalami masalah karena industri real estat China yang sangat bergejolak dengan cepat. Ini daftarnya:

Evergrande

Krisis dimulai bulan lalu saat peringatan dari Evergrande soal utang mereka yang menumpuk. Ini memicu kekhawatiran tentang bank dan investor di seluruh dunia.

Dengan total kewajiban sekitar US$ 300 miliar, termasuk US$ 20 miliar dalam obligasi internasional, Evergrande adalah perusahaan real estat China yang paling besar utangnya. Pada akhir September, Evergrande mengumpulkan US$ 1,5 miliar dengan menjual sebagian sahamnya di bank China.

Minggu ini, perusahaan dilaporkan gagal memenuhi tenggat waktu untuk membayar 148 juta dolar bunga obligasi dalam mata uang dolar AS. Itu adalah pembayaran ketiga yang tampaknya terlewatkan oleh raksasa properti itu dalam beberapa pekan terakhir.

Saham Evergrande pun turun sekitar 80% tahun ini, dan nilai pasarnya telah ambruk menjadi hanya 39 miliar dolar Hong Kong (US$ 5 miliar). Bahkan sahamnya tidak diperdagangkan sejak minggu lalu