Deretan Raksasa Properti China yang Lagi Sekarat Dikejar Utang

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 13 Okt 2021 11:56 WIB
Raksasa properti China, Evergrande tengah disorot karena terancam bangkrut imbas kesulitan bayar utang. Sang pendiri perusahaan, Xu Jiayin pun ikut jadi sorotan
Foto: AP Photo

Fantasia

Pengembang apartemen mewah Fantasia Holdings juga sedang tertatih-tatih. Perusahaan yang berbasis di Shenzhen itu gagal membayar utang kepada pemberi pinjaman sebesar US$ 315 juta minggu lalu. Terdiri dari pembayaran obligasi US$ 206 juta dan pinjaman 700 juta yuan (US$ 109 juta) dari unit manajemen properti Country Garden, pengembang terbesar kedua di China.

Lembaga pemeringkat S&P dan Moody's menurunkan peringkat kredit "default" pada Fantasia dan kemungkinan juga akan membuat perusahaan gagal bayar pada obligasi yang tersisa. Saham perusahaan, yang memiliki nilai pasar 3,2 miliar dolar Hong Kong (US$ 420 juta), turun hampir 60% tahun ini.

Modern Land

Pengembang Modern Land yang berbasis di Beijing juga berjuang membayar utang tepat waktu. Perusahaan meminta investor untuk memberikan waktu tambahan membayar kembali obligasi US$ 250 juta yang jatuh tempo pada tanggal 25 Oktober.

Sementara Modern Land meminta ruang untuk mengatur keuangannya, Ketua Zhang Lei dan Presiden Zhang Peng merogoh kocek mereka sendiri untuk mendukung bisnis. Mereka mengatakan akan meminjamkan perusahaan 800 juta yuan (US$ 124 juta).

Saham Modern Land telah jatuh hampir 50% tahun ini, memotong nilai pasarnya menjadi 1,2 miliar dolar Hong Kong (US$ 160 juta).

Sinic Holdings

Homebuilder Sinic Holdings adalah yang terbaru bergabung dengan jajaran pengembang yang berjuang menyelesaikan utangnya. Disebutkan kemungkinan mereka akan gagal pada beberapa pembayaran obligasi senilai US$ 250 juta. Pokok dan bunga obligasi tersebut akan jatuh tempo pada 18 Oktober.

Pekan lalu, lembaga pemeringkat Fitch menurunkan peringkat Sinic menjadi "C", hanya satu tingkat di atas "default restriktif," yang menggambarkan perusahaan yang gagal membayar tetapi belum memulai proses resmi kebangkrutan atau likuidasi.

Saham Sinic paling menderita dari empat pengembang tahun ini, turun hampir 90%. Nilai pasar perusahaan sekarang mencapai 1,8 miliar dolar Hong Kong (US$ 230 juta).


(eds/eds)