Bagaimana Nasib Jakarta Kalau Ibu Kota Sudah Pindah?

ADVERTISEMENT

Bagaimana Nasib Jakarta Kalau Ibu Kota Sudah Pindah?

Tim Detikcom - detikFinance
Selasa, 19 Apr 2022 13:39 WIB
Bappeda DKI mengusulkan anggaran Rp 10,8 miliar dalam KUA-PPAS untuk anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2020.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Ibu kota negara (IKN) dipastikan akan segera pindah ke Nusantara yang terletak di Penajam, Paser Utara, Kalimantan Timur. Bila sudah resmi pindah, bagaimana nasib DKI Jakarta?

Ketua Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) DKI Jakarta, Dhani Muttaqin mengatakan, Jakarta akan meninggalkan statusnya sebagai ibu kota negara. Meski begitu, dia meyakini Jakarta akan tetap berkembang.

Riset yang dilakukan asosiasi para perencana kota (planner) itu menyebutkan bahwa di negara-negara yang sudah melakukan pemindahan ibu kota negara atau pusat pemerintahan, terbukti ibu kota lamanya tetap berkembang maju dan bertumbuh. Dia merujuk pada Malaysia, Korea Selatan, Pakistan, Australia dan negara lain yang sudah melakukan pemindahan ibu kota negara.

"Dari 10 tahun pertama hingga sekarang sejak pemindahan tersebut, tidak ada ibu kota lama yang mengalami penurunan dari segi jumlah penduduk dan ekonominya. Semuanya mampu bertahan, bahkan semakin bertumbuh. Hal itu juga akan terjadi di Kota Jakarta nantinya," ungkap Dhani, Selasa (19/4/2022).

Dia mengatakan, ada beberapa alasan Jakarta diyakini akan terus tumbuh dan berkembang. Pertama, karena Jakarta sudah memiliki basis ekonomi yang kuat yang ditopan oleh bisnis, perdagangan juga sejumlah infrastruktur yang memadai. Beberapa eks ibu kota di negara lain pun tidak tumbuh karena menjadi pusat pemerintahan.

Dampak dari sektor pemerintahan terhadap perekonomian di Jakarta selama ini hanya sekitar 3%-5%. Pasalnya, basis ekonomi Jakarta terbesar berasal dari bisnis finansial, industri, jasa, pendidikan dan pariwisata.

Kedua, dari sisi jumlah penduduk (populasi) Jakarta. Menurut Dhani, jumlah ASN yang akan dipindah ke IKN Nusantara di Penajam Paser diperkirakan hanya sekitar 500.000 orang atau sekitar 1 juta bersama keluarganya. Angka tersebut tidak signifikan untuk mengurangi jumlah penduduk Jakarta.

"Basis tersebut kami yakini akan cukup kuat menjadi struktur atau pondasi ekonomi Kota Jakarta setelah tidak lagi menjadi ibu kota pemerintahan. Jadi tidak akan decline (menurun), bahkan justru bisa semakin bertumbuh," tegas Dhani yang merupakan lulusan Jurusan Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

IAP DKI, lanjutnya, melihat akan ada banyak dampak positif dari pemindahan ibu kota ini. Langkah ini akan mengurangi beban Jakarta dari sisi kepadatan dan kemacetan lalu lintas.

Lanjut ke halaman berikutnya

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT