ADVERTISEMENT

Sewa Rumah di Inggris Naik 100% Gegara Krisis, Jumlah Gelandangan Melejit

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 25 Sep 2022 13:50 WIB
FILE - In this file photo dated Monday, Dec. 14, 2020, the Union Flag flies on the top of 10 Downing Street, the Prime Ministers official residence in London. The British government said Wednesday March 24, 2021, the national flag should be flown every day on all public buildings, the latest move in an increasing embrace of the Union flag. (AP Photo/Alberto Pezzali, FILE)
Bendera Inggris/Foto: AP Photo/Alberto Pezzali, FILE
Jakarta -

Krisis biaya hidup di Inggris semakin parah. Tidak hanya harga komoditas dan tagihan listrik yang melonjak tinggi, melainkan juga biaya sewa properti yang semakin mahal.

Salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di London, Dyah (39) mengatakan kondisi perumahan di Inggris sangat anomali. Selain kapasitas akomodasi yang terbatas, harga sewa juga meningkat drastis bahkan mencapai 100%.

"Kondisi ekonomi Inggris Raya belakangan ini dapat saya sampaikan dalam kondisi tidak baik. Biaya hidup di Inggris Raya meningkat sangat signifikan, harga sewa meningkat drastis bahkan mencapai 100%," kata Dyah saat dihubungi detikcom, Minggu (25/9/2022).

Menurut WNI lainnya yang tinggal di Kota Leeds, Eva (35) mengatakan bahwa Inggris mengalami krisis properti parah. Sebagai mahasiswa penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang sudah 2,5 tahun, dia menyebut kondisi ini bisa menjadi tantangan bagi penerima beasiswa baru.

"Yang paling utama dari semua itu adalah krisis harga properti. Jadi mahasiswa yang datang ke sini pada tahun ini itu akan mengalami tantangan yang sangat besar banget dalam menemukan rumah terutama bagi yang berkeluarga," tutur Eva.

Eva menyebut setengah dari biaya beasiswa yang diterima saat ini bisa habis hanya untuk sewa properti di Inggris. Tak hanya harganya yang semakin mahal, keberadaannya juga sulit ditemukan karena ibu kost cenderung lebih ketat memberikan sewanya.

"Selama saya di sini 2,5 tahun, itu kenaikannya bisa sampai 200 poundsterling atau hampir Rp 4 juta per bulan. Walaupun ada rumah, sekarang ibu-ibu kost atau agen yang menyewakan properti itu lebih ketat dalam memberikan propertinya kepada orang lain untuk disewakan karena mengecek dulu kemampuan keuangan masing-masing orang yang mau sewa itu seperti apa," ucapnya.

Sebagai mahasiswa, Eva mensiasatinya dengan cara mencari hunian yang lebih murah. Walaupun risikonya jauh dari kampus dan harus naik transportasi seperti sepeda atau berjalan kaki.

"Kalau kami mahasiswa Indonesia khususnya beberapa pelajar di sini lebih pilih belajar di kampus daripada di rumah atau tempat kost atau apartemen karena untuk mengurangi biaya listrik dan pemanas ruangan. Selain itu di kampus kan bisa lebih terkonsentrasi, kalau di rumah tidur terus ntar," kata Eva, mahasiswi S3 Ilmu Politik di University of Leeds.

Jumlah Gelandangan Melejit

Dilansir dari The Guardian, pada kuartal I-2022 jumlah rumah tangga di Inggris yang termasuk tunawisma atau terancam menjadi tunawisma menjadi 74.230 rumah tangga. Jumlah itu naik 5,4% dibandingkan tahun lalu.

Mantan Kepala Pegawai Negeri Sipil Inggris, Bob Kerslake meminta pemerintah melindungi penyewa hunian yang berisiko diusir karena tidak mampu membayar. Dia memperingati pemerintah terkait meroketnya jumlah tunawisma akibat krisis biaya hidup.

Kerslake yang saat ini mengetuai Kerslake Commission on Homelessness and Rough Sleeping mengatakan hal ini bisa mendatangkan bencana besar jika pemerintah salah langkah. Janji untuk menghilangkan tunawisma di 2024 pun dapat musnah.



Simak Video "Lis Truss Pimpin Rapat Kabinet Perdana, Bahas Strategi Atasi Krisis Energi di Inggris"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT