Bahlil Pede Kantongi Rp 200 T buat IKN, Arab hingga China Diklaim Minat

ADVERTISEMENT

Bahlil Pede Kantongi Rp 200 T buat IKN, Arab hingga China Diklaim Minat

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 24 Okt 2022 13:51 WIB
Kepala BKPM/Menteri Investasi Bahlil Lahadalia tantang mahasiswa debat
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia/Foto: Dok. BKPM
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menegaskan banyak investor berminat menanamkan modalnya di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Saat ini disebut sudah ada sejumlah negara yang menyatakan komitmennya.

"IKN bagaimana nasibnya? Apakah banyak investor yang mau masuk? Saya jamin bahwa banyak investor yang masuk. Tahap pertama berdasarkan masterplan insyaallah akan selesai sesuai schedule dan 2024 apa yang sudah dicanangkan Presiden Jokowi untuk kita upacara 17 Agustus di IKN insyaallah akan terwujud," katanya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (24/10/2022).

Bahlil menyebut salah satu negara yang sudah menyatakan berminat investasi di IKN adalah Uni Emirat Arab (UEA). Negara tersebut akan berinvestasi di Indonesia sebesar US$ 20 miliar atau Rp 311,26 triliun (kurs Rp 15.563), termasuk untuk proyek IKN.

"Yang lainnya ada yang masuk dari China, Korea, Taiwan, beberapa negara Eropa pun ingin dan mereka sudah menyampaikan penawarannya kepada kami bahkan sebagian saya sudah bawa ke Bapak Jokowi," imbuhnya.

Sayangnya Bahlil belum mau mengungkap secara rinci siapa saja investor yang akan menanamkan modalnya di IKN termasuk besarannya. Menurutnya, Indonesia setidaknya bisa mengantongi dana investasi hingga Rp 200 triliun.

"Angkanya nggak boleh saya sampaikan. Terkecuali sudah semi kontrak baru kami ngomong, tapi angkanya tidak mengecewakan. Artinya saya mau sampaikan bahwa minimal Rp 200 triliun akan bisa kita wujudkan dalam pembangunan proyek IKN di tahap pertama," tuturnya.

Bahlil menyebut pembangunan IKN akan lebih banyak berasal dari dana sektor swasta. Pasalnya pembangunan mega proyek tersebut bersifat jangka panjang dan tak bisa sepenuhnya dibiayai oleh kas keuangan negara.

"Total investasi IKN di awal kurang lebih sekarang sekitar Rp 500 triliun lebih, 20%-nya dari APBN, selebihnya investasi. Itu kan bukan 1-2 tahun selesai, bisa sampai 10 tahun baru bisa selesai," tandasnya.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT