Waswas Rudal Kim Jong Un, Warga Jepang Beli Shelter Seharga Rp 686 Juta!

ADVERTISEMENT

Waswas Rudal Kim Jong Un, Warga Jepang Beli Shelter Seharga Rp 686 Juta!

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 09 Des 2022 14:40 WIB
Kim Jong-Un membawa istri dan anak perempuannya untuk menonton uji coba rudal antarbenua. Ini merupakan momen perdana putri Kim Jong-Un muncul di depan publik.
Foto: KCNA via REUTERS
Jakarta -

Korea Utara menembakkan rudal ke arah Jepang pada Oktober lalu. Hal ini memicu kekhawatiran warga Jepang, salah Satunya Megumi Morohoshi.

Ia bahkan sampai membeli shelter untuk perlindungan dari bom. Shelter itu juga untuk melindunginya dan ketiga anaknya dari ancaman gempa bumi.

Namun invasi Rusia ke Ukraina dan langkah Korea Utara yang gencar menembakkan rudal meyakinkan Morohoshi bahwa ancaman itu semakin dekat.

"Ketika sirine peringatan berbunyi, itu benar-benar menakutkan," kata wanita berumur 40 tahun itu, dikutip dari Reuters, Jumat (9/12/2022).

Ia memang sudah lama menginginkan shelter itu. Namun kejadian pada Oktober membuatnya semakin yakin untuk merealisasikannya.

Salah satu penyedia tempat perlindungan bom adalah Nao Engineering. Perusahaan ini membandrol harga yang tinggi untuk satu ruangan shelter. Adapun permintaan sudah melonjak pasca pecahnya konflik Rusia-Ukraina.

Untuk satu shelter seukuran toilet besar, harganya dibanderol 6 juta yen atau US$ 44 ribu, atau setara Rp 686 juta (kurs Rp 15.600) di luar biaya pemasangan.

Ruangan terbuat dari bahan besi seberat 3 ton, dengan lapisan timah cukup kuat. Namun, shelter ini tak cukup kuat menahan serangan dari rudal atau nuklir yang diarahkan langsung ke shelter.

Shelter bernama Crisis-1 juga dilengkapi ruangan filtrasi teknologi Israel yang mampu mencegah radiasi dan gas berbahaya. Namun, besar ruangannya mungkin cukup besar untuk ditempatkan di ruangan atau halaman rumah.

Direktur pelaksana Nao, Yoshimitsu Koyano, menganggap Jepang sangat tidak siap menghadapi risiko pengeboman. Perusahaannya telah menerima pesanan sembilan shelter, sekitar setengahnya dari perorangan dan sisanya dari instansi, untuk digunakan untuk keperluan pameran.

Meski tak ada ancaman kiamat, Crisis-1 dapat digunakan sebagai ruang hobi, ruang belajar anak, atau ruang kerja.

Setelah lebih dari 70 tahun, peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki menetap di ingatan orang Jepang. Dan momok bom nuklir bangkit kembali baru-baru ini, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menginvasi Ukraina.

Di Asia, kekhawatiran terus berlanjut dengan adanya konflik China dan Taiwan. Ancaman paling dekat Jepang adalah Korea Utara, yang meluncurkan lusinan rudal yang dikatakan sedang mempersiapkan uji coba nuklir pertamanya sejak 2017.

Salah satu proyektilnya meluncur di atas langit Jepang di bulan Oktober, pertama kalinya dalam lima tahun. Dan bulan berikutnya sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM) mendarat hanya 200 km (130 mil) dari pantai barat laut.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT