Hal ini disampaikan Bambang Dwiyanto, selaku Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN kepada detikFinance, Jakarta, Rabu (13/7/2011).
"Kalau konsumsi listrik yang disedot oleh mal-mal itu gede banget. Di Jakarta konsumsi listrik mal sangat besar sampai Megawatt. Saya tidak hapal persis satu per satu konsumsi listrik dari masig-masing mal. Tapi yang paling besar adalah 40 MW," kata Bambang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita memang mengusulkan untuk memakai tenaga surya, termasuk pula untuk pemakaian tenaga surya bagi penerangan jalan," ucap Bambang.
Bambang melanjutkan, gedung-gedung seperti mal memang dapat menggunakan panel surya untuk mengurangi pemakaian listrik dari PLN. Tapi harga panel surya yang bisa dipakai cenderung relatif mahal.
"Mal dapat memakai panel surya komunal. Tapi kan setiap mal membutuhkan listrik yang berbeda, dan harganya relatif mahal," lanjutnya.
Meski begitu, penggunaan panel surya adalah merupakan solusi yang baik. Sehingga bisa menghemat keluaran listrik yang dihasilkan PLN dari pembangkit.
"Saya kira bisa mal memakai panel surya. Walau tidak 100%, kebutuhan listriknya kan bisa dibagi-bagi dengan suplai listrik PLN," tanggap Bambang.
Seperti diketahui, Pelaksana Harian Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Kementerian ESDM Kardaya Warnika mengatakan, pihaknya telah mengusulkan agar listrik yang dipakai di pusat perbelanjaan tidak lagi berasal dari PLN, namun diganti listrik dari tenaga surya. Jadi nanti di atas atap mal-mal yang berada di kota-kota besar akan dipasang panel surya untuk pembangkit listriknya.
"Indonesia itu kan dilalui garis Khatulistiwa sehingga banyak matahari. China saja yang negara subtropis pakai itu," kata Kardaya.
Sejauh ini, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyambut dingin ajakan pemerintah agar mal-mal menggunakan listrik tenaga surya atau matahari. Investasi untuk membangun pembangkit tenaga surya dianggap sangat mahal apalagi tak ada insentif dari pemerintah.
"Bilang sama pemerintah! supaya peralatan investasinya dimurahin, tenaga surya itu mahal. Paling tidak bea masuknya (dihapus), subsidi kek, agar dapat kemudahan," kata Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan.
(nrs/dnl)











































