Freeport Stop Produksi Konsentrat karena Sabotase

Freeport Stop Produksi Konsentrat karena Sabotase

- detikFinance
Senin, 17 Okt 2011 12:04 WIB
Freeport Stop Produksi Konsentrat karena Sabotase
Jakarta - PT Freeport Indonesia mulai hari ini menghentikan produksi mineral konsentrat mereka. Hal ini terkait meningkatnya aksi sabotase berupa pemotongan pipa yang mengalirkan produksi konsentrat.

"Pipa tidak aman, ada sabotase. Mereka memotong pipa. Mulai pagi ini, produksi kita stop. Hentikan. Karena sudah tidak aman lagi," kata karyawan Freeport yang ada di Tembaga Pura, Nurhadi, melalui video conference bersama wartawan di Jakata, Senin (17/10/2011).

Direktur Executive Freeport Sinta Sirait menyampaikan, pada awal pemogokan karyawan, perseroan tetap memproduksi konsentrat namun jumlahnya turun dari 230.000 ton per hari menjadi 180.000 ton per hari atau hanya 75% dari total kapasitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Proses pengiriman masih berjalan. Tapi karena ada pemotongan pipa yang menjadikan ada kerusakan, kita akan evaluasi, apakah dihentikan atau tidak. Sampai saat konsentrat yang terhubung ke pelabuhan, termasuk pabrik pengeringan masih," tegas Sinta.

Sinta menambahkan atas aksi demo yang tak kunjung usai, persediaan avtur menjadi terbatas. "Avtur dari kemarin tidak ada. Bahkan Garuda mengalihkan, untuk mengisi avtur dari Timika ke Jaya Pura. Semakin lama pemblokiran, akan semakin parah," tuturnya.

Sebelumnya, President Director and CEO PT Freeport Indonesia Armando Mahler mengaku, Freeport merugi US$ 20 juta per hari, karena mogok karyawan yang menyebabkan operasi penambangan dan pabrik pengolahan konsentrat tembaga dan emas di Papua tak beroperasi penuh.

Kerugian belum ditambah dari berkurangnya setoran pajak ke pemerintah Indonesia. Saat negosiasi tidak juga menemui kata sepakat, produksi perseroan akan terganggu di 2012.

"Kalau kondisi ini terus, bisa tidak produksi. Karena bijih dari tambang permukaan sedikit. Dan grade (kualitas) tidak sesuai lagi," tegas Armando.

Perselisihan manajemen Freeport dengan serikat pekerjanya terkait tuntutan tenaga kerja non-staf Freeport yang meminta kenaikan gaji berstandar dolar. Perselihan ini berujung mogok kerja ribuan karyawan non staf Freeport.

Pihak manajemen Freeport mengklaim, telah memberikan pengupahan yang terbaik di industri pertambangan di Indonesia. Sebagai gambaran rata-rata penghasilan (take home pay) karyawan non staf termasuk yang paling terendah di Freeport bisa memboyong Rp 210-230 juta per tahun.

Saat negosiasi alot, Freeport siap membawa kesepakatan perjanjian kerjasama (PKB) dengan karyawan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Dengan masuk pengadilan, maka rencana kenaikan 22% pendapatan tidak akan didapat karyawan.

"Akan kami serahi ke Pengadilan Hubungan Industrial. Kami sudah ajukan kenaikan 22% dalam dua tahun. Ini juga sudah lebih tinggi dari perusahaan lain di Indonesia. Namun tuntutan mereka masih tetap, gaji US$ 17,5 per jam. Jika masih buntu, pasti rugikan karyawan, karena perjanjian lama akan dilanjutkan," tegasnya.

(wep/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads