"Kementerian Perdagangan selama ini tidak becus mengurusi perdagangan. Kami para petani Apel Malang tertindas dengan maraknya apel China," teriak seorang pendemo di lokasi, Senin (25/02/2014).
Menurut mereka keberadaan apel Malang kini mulai tersingkir akibat membanjirnya apel impor asal China. Bahkan harga Apel Malang terus anjlok karena tidak mampu bersaing dengan apel impor China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jatuhnya harga apel lokal menyebabkan petani besar sekarang mulai beralih ke sektor usaha lain seperti properti, agrowisata dan mulai meninggalkan perkebunan apel. Sehingga semakin membuat Apel Malang tidak mempunyai posisi tawar. Ditambah bencana Gunung Kelud di satu sisi menyebabkan petani lebih sulit memasarkan produknya.
Dalam kasus malangnya Apel Malang atau jenis hortikultura yang menjadi ikon Kota Malang perlindungan pemerintah tidak dirasakan oleh para petani. Ada sejumlah persoalan petani Malang di sana.
Pertama, menurut petani di sana sekitar 60% sampai dengan 70% lahan pertanian apel di sana sudah beralih fungsi. Lahan perkebunan apel ada yang beralih menjadi hotel, tempat hiburan (BTS), dibiarkan terlantar atau beralih menjadi perkebunan tebu.
Melihat nasib apel malang yang sudah mulai berkurang produksinya, maka ia meminta pemerintah khususnya Kemendag dapat memperhatikan nasib para petani.
(wij/ang)











































