Kantor Mendag Lutfi Diserbu 200 Petani Apel Malang

Malangnya Apel Malang

Kantor Mendag Lutfi Diserbu 200 Petani Apel Malang

Wiji Nurhayat - detikFinance
Senin, 24 Feb 2014 11:48 WIB
Kantor Mendag Lutfi Diserbu 200 Petani Apel Malang
Jakarta - Siang ini, Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Jalan Ridwan Rais Jakarta diserbu 200 petani Apel Malang asal Malang. Mereka datang jauh-jauh dari Malang untuk mengadu kepada Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi atas maraknya peredaran apel impor asal China.

"Kementerian Perdagangan selama ini tidak becus mengurusi perdagangan. Kami para petani Apel Malang tertindas dengan maraknya apel China," teriak seorang pendemo di lokasi, Senin (25/02/2014).

Menurut mereka keberadaan apel Malang kini mulai tersingkir akibat membanjirnya apel impor asal China. Bahkan harga Apel Malang terus anjlok karena tidak mampu bersaing dengan apel impor China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut para petani, apel-apel yang ada di Malang sekarang kebanyakan apel impor. Akibat berlimpahnya apel impor, maka harga apel lokal menjadi terpuruk. Ada harga apel kemudian jatuh menjadi Rp 2.500 per kg di tingkat eceran.

Jatuhnya harga apel lokal menyebabkan petani besar sekarang mulai beralih ke sektor usaha lain seperti properti, agrowisata dan mulai meninggalkan perkebunan apel. Sehingga semakin membuat Apel Malang tidak mempunyai posisi tawar. Ditambah bencana Gunung Kelud di satu sisi menyebabkan petani lebih sulit memasarkan produknya.

Dalam kasus malangnya Apel Malang atau jenis hortikultura yang menjadi ikon Kota Malang perlindungan pemerintah tidak dirasakan oleh para petani. Ada sejumlah persoalan petani Malang di sana.

Pertama, menurut petani di sana sekitar 60% sampai dengan 70% lahan pertanian apel di sana sudah beralih fungsi. Lahan perkebunan apel ada yang beralih menjadi hotel, tempat hiburan (BTS), dibiarkan terlantar atau beralih menjadi perkebunan tebu.

Melihat nasib apel malang yang sudah mulai berkurang produksinya, maka ia meminta pemerintah khususnya Kemendag dapat memperhatikan nasib para petani.

(wij/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads