"Yang ukuran satu ekor 1,5 kg sudah Rp 40.000, naik Rp 5.000. Sedangkan yang ukuran 0,9-1 kg sudah Rp 32.000, atau naik Rp 5.000," ungkap salah satu penjual daging ayam bernama Rahmat saat ditemui di Pasar Warakas, Jakarta Utara, Rabu (28/05/2014).
Rahmat mengatakan kenaikan harga sudah terjadi sejak ia membeli ayam dari sentra produksi ayam potong di Pasar Pulogadung. Meskipun diakui dia distribusi ayam dari sentra produksi ke pasar tidak mengalami banyak kendala. "Distribusi lancar dan stok cukup di Pulogadung. Tetapi memang harga sudah naik sejak 2 minggu terakhir," tuturnya.
Tak hanya itu, untuk harga telur ayam juga mengalami kenaikan. Harga telur ayam saat ini dijual Rp 19.000-20.000/kg, atau naik Rp 3.000-4.000/kg dari harga normal.
Sementara itu, Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P Utoyo menjelaskan, kenaikan harga ayam terjadi karena kebijakan surat edaran dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Kemendag memang sudah mengeluarkan aturan pembatasan peredaran DOC (Days Old Chicken) untuk memberikan perlindungan kepada peternak ayam.
"Pada pertengahan Mei ini, suplai DOC sudah tidak berlebihan malahan berkurang. Akibatnya harga ritel karkas ayam mengalami kenaikan serta permintaan cendrung naik. Yang penting pemerintah agar menjaga harga-harga DOC, karkas ayam dan telur ayam jangan sampai di bawah HPP (Harga Patokan Penjualan). Perlu dijaga agar masing-masing (peternak, pedagang, pembibit) punya keuntungan yang wajar," jelasnya.
Menurut data FMPI, HPP karkas ayam saat ini berkisar Rp 31.000-33.000/kg sedangkan HPP telur ayam Rp 16.500-17.000/kg.
(wij/dnl)











































