Impor Beras 50.000 Ton, Bulog Gelontorkan Rp 300 Miliar

Impor Beras 50.000 Ton, Bulog Gelontorkan Rp 300 Miliar

- detikFinance
Selasa, 22 Jul 2014 10:32 WIB
Impor Beras 50.000 Ton, Bulog Gelontorkan Rp 300 Miliar
Jakarta - Perum Bulog telah memutuskan untuk mengimpor beras jenis premium dan medium dari Vietnam sejumlah 50.000 ton. Direncanakan puluhan ribu ton beras tersebut akan datang dalam waktu dekat yaitu Juli hingga Agustus.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengungkapkan butuh dana besar bagi Bulog untuk mendatangkan puluhan ribu ton beras asal Vietnam itu.

"Kira-kira jadi 50.000 ton itu sama dengan 50 juta kg dikali Rp 6.000 per kg jadi Rp 300 miliar. Itu besar, seminggu saja kita keluarkan uang Rp 500 miliar untuk membeli beras di sini," ungkap Sutarto seperti dikutip, Selasa (22/07/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutarto kembali menjelaskan bila importasi beras yang dilakukan Bulog sudah sesuai instruksi oleh pemerintah. Pemerintah beralasan salah satu sebab Bulog harus impor beras adalah karena puso (gagal panen).

Menurut Sutarto, jumlah stok beras yang diharapkan pemerintah idealnya adalah sebesar 2 juta ton. Sejak Mei 2014, stok Bulog memang mendekati 2 juta ton atau detilnya 1,9 juta ton yang terdiri dari 1,89 juta ton stok beras Bulog dan pengadaan komersial sebesar 18.000 ton.

Kondisi ini jauh berbeda bila dibandingkan 2012 dan 2013, di mana posisi stok beras di gudang Bulog sudah di atas 2 juta ton. Kemudian dengan berpatokan pada stok beras yang ada saat ini serta dipicu Angka Ramalan (Aram) produksi beras oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar minus 1,98%, maka importasi beras memang harus dilakukan.

"Pokoknya secara bertahap lah. Sebenarnya kalau tidak impor, pengadaan harus 3,2 juta ton yang harus dibeli dari dalam negeri. Persoalannya, mungkin nggak sampai akhir tahun kita nambah 1,3 juta ton? Itu yang harus dihitung. Dengan BPS meramal penurunan produksi sebesar 1,98%, apa yang akan terjadi," paparnya.

Sutarto mengatakan tetap akan mencermati produksi beras dalam negeri. Ia menegaskan Bulog tetap akan memprioritaskan penyerapan beras dalam negeri walaupun dengan harga yang sedikit lebih mahal. Jika tidak cukup, maka importasi beras gelombang kedua akan dilakukan.

"Pokoknya kita sudah buka. Thailand pun kita minta menawar. Lalu Myanmar dan India juga kita jajaki. Mana yang siap dengan kualitas yang kita harapkan. Sementara ini Vietnam yang memenuhi," jelasnya.

(wij/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads