Di depan Komisi VI DPR, para karyawan mengaku harus bekerja sebagai kuli serabutan demi bertahan hidup. "Banyak karyawan berpisah dengan istri. Mereka harus bekerja jadi kuli di luar kota. Mereka malu sama tetangga jadi memilih kerja di luar kota. Mereka bekerja di tambang batu bara di Kalimantan, tambang nikel di Sulawesi," ungkap Sekjen Serikat Karyawan Kertas Leces M Arham di Ruang Rapat Komisi VI DPR, Jakarta, Selasa, (16/9/2014).
Tidak hanya itu, ada juga karyawan Kertas Leces yang menarik becak demi memenuhi kehidupan hidup. Bagi karyawan yang tidak bisa mencari kerja, mereka terpaksa harus menjual harta benda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, lanjut Arham, ada sebagian karyawan yang mengalami gangguan jiwa. "Ada 4 karyawan sakit ingatan dan depresi karena 18 bulan nggak digaji," ujarnya.
Menurut Arham, sudah berkali-kali karyawan Kertas Leces meminta kejelasan kepada pemerintah dan DPR. Jika BUMN ini harus ditutup, karyawan ingin pembayaran gaji yang tertunggak dan uang pesangon.
"
Kami nggak pikir penambahan upah, yang penting bayar gaji kami. Kalau Leces dimatikan, tolong matikan. Tapi siapkan pesangon," tegasnya.
Di tempat yang sama, Airlangga Hartarto, Ketua Komisi VI DPR, berjanji akan meneruskan keluhan karyawan Kertas Leces kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan. Apalagi hari ini Komisi VI DPR dan Kementerian BUMN akan menggelar rapat kerja.
"Kami sampaikan ke Menteri BUMN persoalan yang menggantung soal Leces dan Merpati," tuturnya.
(feb/hds)










































