Siapkan Rp 2 Triliun, Sinarmas 'Pede' Menangkan Berau dari Rothschild

Siapkan Rp 2 Triliun, Sinarmas 'Pede' Menangkan Berau dari Rothschild

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Selasa, 19 Mei 2015 20:50 WIB
Siapkan Rp 2 Triliun, Sinarmas Pede Menangkan Berau dari Rothschild
Jakarta - Tak lama lagi, Grup Sinarmas bakal memenangkan pertarungan melawan NR Holdings, perusahaan investasi milik investor asal Inggris Nathaniel Rothschild (Nat) untuk mengambilalih saham Asia Resource Minerals PLC (ARMS), induk dari PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Melalui Asia Coal Energy Ventures Ltd (ACE), perusahaan investasi yang dikendalikan pemegang saham minoritas ARM yaitu Argyle Street Management Ltd, Grup Sinarmas memberikan tawaran harga senilai US$ 150 juta (Rp 2 triliun). Tawaran ini lebih tinggi dibanding yang diajukan Nat, senilai US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun).

President Director PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) Fuganto Widjaja menyebutkan, pihaknya sudah mendapatkan 'deal' dengan Raiffeisen Bank International (RBI), untuk mengambilalih kepemilikan sahamnya sebesar 23,8% di ARMS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sudah menawarkan, high price, reasonable offer, kita sudah deal dengan RBI untuk ambil alih," kata dia saat bincang bersama media di Sinarmas Land Plaza, Jakarta, Selasa (19/5/2015).

Pria yang akrab disapa Fu ini menyebutkan, saat ini Argyle Street Management Ltd punya 4,7% saham di ARMS, Samin Tan sekitar 20%, dan Hari Tanoesoedibjo lebih dari 1%.

Jika proses akuisisi berhasil, maka Grup Sinarmas akan punya kepemilikan saham di ARMS sebesar kurang lebih 52%.

Dia menjelaskan, proses Bidding Offer (BO) ini akan dilakukan pada 4 Juni 2015. Setelah proses itu selesai, maka akan dilanjutkan voting untuk meminta dukungan kepada pemegang saham atas akuisisi tersebut. Proses voting untuk menentukan persetujuan akuisisi dilakukan paling lama 60 hari setelah BO.

Fu menjelaskan, akuisisi ARMS oleh Sinarmas ini tidak hanya kepemilikan sahamnya saja, tapi sekaligus restrukturisasi utang senilai total US$ 950 juta yang sebesar US$ 450 juta akan jatuh tempo pada Juli 2015, sementara sisanya akan jatuh tempo pada 2017.

Namun, karena tingkat kupon yang jatuh tempo pada 2017 nanti dinilai terlalu tinggi, perseroan berencana melunasinya di tahun ini juga.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads