Tambang Grasberg, Gunung Emas di Papua yang Akan 'Pensiun' 2017

Tambang Grasberg, Gunung Emas di Papua yang Akan 'Pensiun' 2017

Wahyu Daniel - detikFinance
Jumat, 21 Agu 2015 06:46 WIB
Tambang Grasberg, Gunung Emas di Papua yang Akan Pensiun 2017
Foto: Tambang Grasberg (wahyu-detikFinance)
Jakarta - Oksigen yang tipis membuat nafas kami tersengal-sengal saat mencapai puncak Grasberg di ketinggian 4.285 meter di atas permukaan laut (mdpl) siang itu.

Berangkat dari Tembagapura, distrik di balik pegunungan Jayawijaya, Kabupaten Mimika Papua, jarak tempuh ke Grasberg mencapai sekitar 1 jam dengan kendaraan bermesin besar.

Pukul 06.00 WIT, detikFinance dan sejumlah awak media berkesempatan mengunjungi Grasberg yang terkenal. Gunung ini merupakan penghasil tembaga terbesar di dunia, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia. Selain itu, Grasberg juga menghasilkan emas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Tembagapura, kami harus bersiap menggunakan helm keselamatan, rompi berwarna oranye, sepatu karet, dan kacamata anti debu. Sebelum berangkat, para peserta dicek dulu tekanan darahnya. Bila tekanan darahnya melewati batas normal, maka akan dilarang untuk naik ke puncak.

Oksigen yang tipis di puncak Grasberg membuat peserta harus memiliki kondisi sehat. Bila tidak bisa pusing bahkan pingsan. Kami berangkat menggunakan mobil Toyota Land Cruiser 4x4 berkekuatan 4.200 cc.

"Mobil di sini ber-cc besar agar bisa menanjak di gunung tinggi," ujar sopir yang membawa kami, saat kunjungan pada Minggu (16/8/2015).

Jalan munuju tambang yang kami lalui berdebu karena hujan tidak kunjung turun hampir 2 bulan. Jangan berpikir jalan di kompleks tambang puluhan ribu hektar ini beraspal.

Kondisi jalan sengaja dibuat dari batu-batu yang dipadatkan dan tak diaspal, karena bila diaspal dikhawatirkan struktur jalan tidak kuat untuk menahan truk-truk besar.

Bentuk jalan memang cukup curam tanjakannya, sesekali pemeriksaan sebelum bisa memasuki wilayah Grasberg. Saat memasuk ketinggian 4.000 mdpl, mulai terlihat truk-truk raksasa seharga puluhan miliar rupiah. Bahkan ada bengkel-bengkel khusus untuk truk-truk raksasa ini.

"Truk ini tidak dibawa dengan keadaan utuh. Namun truk tersebut dirakit di sini," kata sopir yang membawa kami.

Setelah sekitar satu jam, sampailah kami di pos puncak Grasberg. Udara dingin dan oksigen yang tipis menusuk kulit, nafas para peserta terdengar ngos-ngosan. Bahkan sudah ada beberapa yang tidak kuat, pusing, dan menggunakan oksigen dari tim medis yang memang sudah disiapkan Freeport.

Di situ kami dijelaskan soal kawah tambang Grasberg yang diameternya sekitar 4 km, dengan kedalaman 1 km lebih. Grasberg ini cadangan tembaga, emas, dan peraknya akan habis pada 2017.

Dari data produksi bijih (batuan mineral/ore) Freeport sekitar 220.000-240.000 ton per hari, sekitar 70% datang dari Grasberg. Namun tambang ini akan habis cadangannya pada 2017. Hingga 2041 masih ada cadangan terbukti sebanyak 2,35 miliar ton material bijih atau ore yang mengandung mineral berharga.

Grasberg merupakan ikon tambang dunia yang terkenal. Di samping predikatnya di sektor tambang, pemandangan di atas ketinggian 4.285 mdpl ini cukup indah. Puncak Cartenz yang merupakan daratan tertinggi di bumi Indonesia ini terlihat jelas dari kawasan Grasberg.

Biasanya di Grasberg turun salju di waktu-waktu tertentu. Namun sekarang ini nampaknya sulit, imbas fenomena El Nino juga dirasakan hingga kawasan ini. Hujan tidak turun hingga hampir 2 bulan. Seorang karyawan Freeport mengatakan, hujan biasanya turun tiap hari di kompleks tambang ini.

Kunjungan kami cukup singkat, karena harus mengunjungi tempat-tempat lain di area tambang ini.

Freeport tengah menyiapkan tambang emas bawah tanah terbesar di dunia. Lokasinya di bawah Grasberg. Tambang bawah tanah ini bakal menjadi masa depan Freeport. Selama ini, Freeport telah mengeluarkan sekitar US$ 4 miliar untuk tambang bawah tanah, dari total rencana US$ 15 miliar.

Perusahaan tambang yang berinduk di Amerika Serikat (AS) ini kontraknya akan habis pada 2021. Dan sedang menunggu kepastian pemerintah, agar kontrak bisa diperpanjang hingga 2041. Karena akan mengeluarkan investasi besar untuk tambang bawah tanah.

(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads