Ini Dia Miliuner yang Dulu Hidup Susah Menjadi Pengungsi

Ini Dia Miliuner yang Dulu Hidup Susah Menjadi Pengungsi

Wahyu Daniel - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2015 07:15 WIB
Ini Dia Miliuner yang Dulu Hidup Susah Menjadi Pengungsi
Jakarta - Ratusan ribu pengungsi Suriah, putus asa dengan kehidupan di negaranya karena perang, dan mencoba kabur ke Eropa untuk mencari kehidupan yang ebih baik.

Konflik tak kunjung akhir, dan kemiskinan yang makin meluas, membuat banyak warga Suriah kabur dengan cara yang keras untuk meraih Eropa.

Para pemimpin di Eropa tengah dihadapi dilema, antara menerima pengungsi untuk memberantas krisis kemanusiaan, dengan ketakutan jumlah imigran yang banyak bakal menimbulkan pengangguran baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sejumlah negara di Eropa setuju untuk menerima pengungsi dari Suriah, Irak, ataupun Afganistan.

Dikutip dari CNN, Jumat (18/9/2015), banyak miliuner dunia yang hidup miskin sebagai pengungsi.

Contoh saja George Soros. Pria ini mengungsi dari Hungaria pada 1947 setelah berhasil selamat dari penguasaan Nazi sepanjang Perang Dunia II. Soros kabur ke Inggris, sebelum akhirnya menetap di Amerika Serikat.

Soros saat ini menjadi salah satu orang terkaya di dunia, lewat bisnis investasi atau hedge fund yang dimulainya pada 1960an. Kekayaan Soros menurut Forbes mencapai US$ 24,2 miliar, atau sekitar Rp 338 triliun.




Lalu ada juga Frank Lowy, pendiri Westfield Group dan salah satu orang terkaya di Australia. Lahir di Slovakia, pengusaha pusat perbelanjaan ini meninggalkan Eropa usai Perang Dunia II, dan sampai di Australia pada 1952.

Pria berumur 84 tahun ini menjadi salah satu figur bisnis paling berpengaruh di negeri kanguru.




Dari jagad teknologi, ada 2 orang miliuner yang kecilnya hidup sebagai pengungsi. Pertama adalah pendiri Google, Sergey Brin. Pada 1970an, Sergey kecil meninggalkan Rusia bersama keluarganya dan pindah ke AS.

Saat kuliah di Stanford University, Sergey bertemu Larry Page dan mulai mendirikan Google. Jumlah harta Sergey saat ini diperkirakan mencapai US$ 35 miliar atau sekitar Rp 455 triliun.




Kemudian ada pendiri WhatsApp, yaitu Jan Koum. Saat muda di 1990an, Koum bersama ibunya pindah dari Ukraina ke AS. Awal kehidupannya di AS cukup susah, dan bergantung kepada tunjangan makanan dari pemerintah.

Pada 2009, pria yang dropout dari kuliah ini mulai mengembangkan WhatsApp yang sekarang dipakai lebih dari 1 juta orang per hari. Bahkan tahun lalu, aplikasi ini dibeli oleh Facebook dengan nilai US$ 19 miliar.



(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads