Direktur Utama PTDI Budi Santoso mengatakan uji dan penyempurnaan terhadap pesawat ini akan berlangsung setelah roll out November 2015.
Proses ini, kata Budi, ditargetkan memakan waktu 6 bulan. Setelah itu, PTDI akan melakukan first flight atau penerbangan perdana pesawat karya putra-putri Indonesia itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini beda sama nyoba mobil (produk baru) kalau patah nggak apa-apa karena berada di jalan, kalau pesawat terbang patah terus nanti bisa jatuh maka proses (uji dan penyempurnaan) sampai terbang masih butuh waktu," jelasnya.
Setelah first flight, PTDI akan mengurus proses sertifikasi dalam negeri di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Proses ini memakan waktu 1-2 tahun. Sejalan dengan proses sertifikasi, PTDI mulai melakukan proses produksi N219.
"Tahun 2016 mulai produksi dan nggak tunggu semuanya (proses sertifikasi tuntas). Ini pesawat (teknologi) sederhana," jelasnya.
N219 merupakan pesawat yang mulai dirancang sejak 2007 lalu, Pesawat ini dibuat dengan kapasitas 19 orang dan memiliki kelebihan bisa lepas landas dalam jarak pendek sehingga cocok untuk daerah-daerah terpencil, termasuk di Indonesia.
Saat proses roll out, PTDI berencana mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melihat wujud pesawat baling-baling yang mampu membawa 19 penumpang itu.
Budi mengaku, pihaknya sempat kaget melihat ukuran N219 saat proses perakitan karena wujudnya yang relatif besar. Setelah proses roll out, insinyur PTDI akan melakukan tes dan penyempurnaan pada prototipe N219 yang pertama ini. Proses uji hingga penyempurnaan akan dilakukan dengan sangat detil.
(feb/hen)











































