Darmin: Logistik Indonesia Kalah dari Vietnam dan Malaysia

Darmin: Logistik Indonesia Kalah dari Vietnam dan Malaysia

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 17 Nov 2015 12:27 WIB
Darmin: Logistik Indonesia Kalah dari Vietnam dan Malaysia
Jakarta - Kinerja dan biaya logistik di Indonesia masih tertinggal dengan negara tetangga. Banyak hal yang perlu diperbaiki dari persoalan lama yang belum berubah.

Misalnya para eksportir di Indonesia hingga saat ini lebih nyaman dengan sistem FOB (Free On Board) saat mengirim barang ke luar negeri. Artinya barang yang diekspor hanya diantarkan sampai ke pelabuhan muat di Indonesia, bukan ke pelabuhan tujuan, karena risikonya rendah.

Padahal selain sistem FOB ada juga sistem pengiriman barang dengan cara CIF (Cost Insurance and Freight) yaitu harga barang sampai pelabuhan tujuan, eksportir menanggung semua biaya pengapalan sampai ke pelabuhan tujuan, memang ada risiko asuransi yang harus ditanggung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, persoalan ini hanya salah satu bagian dari persoalan sistem logistik di Indonesia. Padahal dengan sistem CIF, saat ekspor justru akan banyak memberikan keuntungan nilai tambah bagi sistem logistik Indonesia, seperti berkembangnya bisnis perkapalan lokal, asuransi kapal dan lainnya.

"Coba lihat ekspor kita. Sejak merdeka, ekspor kita sudah habis peranannya sampai di pelabuhan. Kita tidak tahu lagi urusan selanjutnya. Kita mengekspor FOB," kata Darmin dalam acara Tempo Economic Briefing bertema Mengembalikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (17/11/2015)

Di sisi lain, para importir Indonesia justru saat mengimpor memakai sistem CIF. Barang yang dipesan dari negara lain sudah tinggal terima di pelabuhan Indonesia tanpa risiko. Hal ini justru tak memberikan nilai tambah bagi kegiatan logistik di Indonesia, yang untung hanya negara lain karena kapal, asuransinya digunakan.

"Sejak merdeka begitu. Pernah ada menteri dari salah satu kabinet, karena menyadari situasi itu kemudian membuat peraturan kalau ekspor CIF kalau impor FOB. Mengubah ekspor menjadi CIF memerlukan bukan hanya kompetensi tapi jaringan, pengetahuan pasar, penguasaan sarana seperti kapal. Memang ini persoalannya sangat teknis," ungkap Darmin.

Darmin mengatakan kondisi semacam ini berdampak pada kinerja keseluruhan sistem logistik di Indonesia. Apalagi biaya logistik di Indonesia sangat tinggi dibandingkan dengan di kawasan, nilainya sampai 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Sekarang ini Indonesia seperti apa? Kinerja logistik Indonesia kalah dari Vietnam apalagi Malaysia, tapi kita menang sedikit dibandingkan India dan Filipina," kata Darmin.

Ia mengatakan, skor kinerja logistik mencakup kepabeanan, infrastruktur, international shipment, kompetensi logistik, tracking dan tracing, timelines.

"Begitu banyak, tidak mengherankan ini adalah area yang sulit untuk mencapai perbaikan yang berarti," katanya.

(mkl/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads