Survei OJK: Ini Alasan Banyak Orang RI Terjerumus Investasi Bodong

Survei OJK: Ini Alasan Banyak Orang RI Terjerumus Investasi Bodong

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 24 Jan 2017 17:48 WIB
Survei OJK: Ini Alasan Banyak Orang RI Terjerumus Investasi Bodong
Foto: Muhammad Idris - detikFinance
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis indeks literasi atau pemahaman keuangan di Indonesia baru sebesar 29,66%. Angka tersebut menunjukkan dari 100 orang di Indonesia, baru 30 orang yang sudah memahami produk dan jasa dari lembaga keuangan.

Indeks tersebut naik dari survei yang dilakukan OJK tahun 2013 yang literasinya baru 21,84%. Namun meski ada kenaikan, masih banyak fenomena orang-orang yang terjerumus dalam investasi bodong seperti ponzi sampai penggandaan uang.

Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti Soetiono, menjelaskan fenomena maraknya investasi bodong tersebut terjadi lantaran pemahaman masyarakat atas risiko yang masih rendah, meski di sisi lain mereka sudah memahami produk dan jasa keuangan.

"Ini karena risiko bukan jadi orientasi utama mereka. Walaupun paham fitur dan produk keuangan, tapi untuk pemahaman risiko sangat kecil," jelas Kusumaningtuti di Restoran Seribu Rasa, Jakarta, Selasa (24/1/2017).

Lebih spesifik, lanjutnya, tingkat literasi untuk pemahaman risiko masyarakat di Indonesia baru 36,25%. Jauh lebih rendah dibandingkan pemahaman masyarakat atas fitur produk dan jasa keuangan sebesar 84,16%. Sementara pemahaman lainnya yakni manfaat 86,57%, cara memperoleh 40,58%, hak 40,75%, kewajiban 36,38%, biaya 37,81%, dan denda denda 66,04%.

Menurutnya, tingkat pendidikan dan pendapatan yang tinggi, bukan jaminan orang lebih pintar dalam pengambilan risiko dari keputusan investasinya.

"Literasi sudah tinggi tapi masih ada fenomena investasi bodong marak, ilmiahnya jika ditelusuri dari survei itu karena kecenderungan orang paham fitur (produk dan jasa) keuangan, penghasilan tinggi, pendidikan SD sampai S3, tapi ternyata itu enggak mempengaruhi pengambilan risiko," kata Kusumaningtuti.

"Mereka lebih percaya pada yang sifatnya enggak pasti, bahkan tidak begitu memperdulikan keabsahannya. Jadi yang terungkap di survei ini masyarakat kita banyak yang tidak memperhatikan risikonya. Dapat return yang tinggi-tinggi itu lebih menarik," pungkasnya. (idr/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads