Garis kemiskinan pada periode September 2016 hingga Maret 2017 naik 3,45% menjadi menjadi Rp 374.478 per kapita per bulan. Pada September 2016 sebesar Rp 361.990 per kapita per bulan.
Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, mengungkapkan garis kemiskinan digunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin ialah yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan tersebut, yakni Rp 374.478 per kapita per bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenis komoditas makanan yang paling paling banyak dibeli oleh penduduk miskin ialah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, gula pasir, mie instant, kopi bubuk dan kopi instant, dan bawang merah.
"Dengan Maret 2017 374.478 per kapita per bulan, 73% disumbang oleh makanan. Kita harus menjaga supaya harga bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk miskin harus stabil. Kalau enggak stabil akan berpengaruh terhadap peningkatan penduduk miskin," kata Kecuk saat Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Senin (17/7/2017).
Sementara untuk pengeluaran bukan makanan yang besar pengaruhnya ialah biaya perumahan, listrik, bensin, pendidikan, angkutan, kesehatan, dan perlengkapan mandi.
Berikut rincian komoditas yang memberikan pengaruh terhadap garis kemiskinan:
Makanan
1. Beras di kota 20,11% dan desa 26,46%
2. Rokok di kota 11,79% dan desa 11,53%
3. Daging sapi 0,24% di kota dan 0,16% di desa
4. Telur ayam ras di kota 3,69% dan 3,13% di desa
5. Daging ayam ras 3,61% di kota dan 2,23% di desa
6. Mie instan di kota 2,59% dan 2,31% di desa
7. Gula pasir di kota 2,27% dan 3,04% di desa
8. Bawang merah 1,67% di kota dan 1,95% di desa
9. Tempe 1,67% di kota dan 1,51% di desa
10. Tahu 1,59% di kota dan 1,36% di desa
Bukan Makanan
1. Perumahan di kota 9,01% dan di desa 7,30%
2. Listrik 3,26% di kota dan 1,66% di desa
3. Bensin 3,84% di kota dan 2,80% di desa
4. Pendidikan di kota 2,41% dan 1,45% di desa
5. Angkutan 1,57% di kota dan 0,79% di desa.
(mkj/mkj)