Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Moneter, Fiskal, dan Publik, Raden Pardede saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (7/8/2017).
"Dengan 5,01%, saya pikir cukup bagus, data yang sementara lalu ritel waktu konsumsi agak melemah, kalau BPS hari ini menunjukan investasi naik cukup tajam, mungkin di infrastruktur, kalau konsumsi melemah itu bisa terkompensasi. Data manufaktur menurun, jasa servis itu naik, jadi terkompensasi," kata Raden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dok. BPS |
Meski pertumbuhan investasi tinggi dan mampu mengkompensasi sektor lainnya, Raden meminta pemerintah tetap waspada terkait dengan hal tersebut. Sebab, investasi tinggi yang tidak diikuti dengan konsumsi juga menjadi tidak baik.
"Karena ini (ekonomi) sudah lebih baik dari yang perikirakan, pemerintah harus tetap hati-hati jangan sampai konvensional tidak menciptakan lapangan kerja," tambah dia.
Yang dimaksud konvensional adalah pelaku usaha yang selama ini ada, seperti pedagang kaki lima, pasar tradisional, hingga pusat perbelanjaan. Diwaspadai lantaran sudah bermunculan para pelaku e-commerce yang belum diketehui terkait dengan potensi penciptaan lapangan kerja.
"Sektor modern belum bisa menciptakan lapangan kerja, kalau terjadi perpindahan dari sektor konvensional ke online ini ada implikasi penciptaan lapangan kerja agak melambat, ini sudah menggambarkan pengubahan struktur ekonomi, jasa perdagangan sudah berpindah sekarang," ungkap dia.
Baca juga: Pengusaha Bingung Lihat Ekonomi RI |
Kendati demikian, Raden tetap optimis bahwa ekonomi nasional sepanjang 2017 sesuai target yang telah ditetapkan dalam APBN, yakni sebesar 5,2% dengan beberapa catatan.
"Harapan saya itu bisa dicapai kalau kepercayaan konsumen ini terjaga, misalnya belanja desa, pemerintah ada percepatan, belanja desa kalau boleh dipakai infrastruktur yang bisa memperkerjakan orang dengan cepat, sehingga dia mendapat penghasilan dan bisa dibelanjakan," tukas dia. (mkj/mkj)












































Foto: Dok. BPS