Dalam riset Morgan Stanley, yang dikutip detikFinance, Rabu (23/8/2017), langkah yang diambil oleh Bank Sentral sudah tepat. Pemangkasan suku bunga acuan diyakini tidak akan membahayakan stabilitas ekonomi Indonesia
Bila dirunut hingga akhir tahun lalu, sejak BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada level 4,75% dari agresivitas penurunan, alasan yang dikemukakan adalah kekhawatiran tentang kondisi global, khususnya Amerika Serikat (AS) yang alami perubahan tempo kebijakan moneter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus US$ 700 miliar ditopang oleh surplus transaksi modal dan keuangan sebesar US$ 5,9 miliar melebihi defisit neraca transaksi berjalan sebesar US$ 5 miliar (1,96% PDB). Cadangan devisa bahkan sempat menembus level tertinggi, yaitu US$ 128 miliar.
Baca juga: Dear Bankir, Kapan Bunga Kredit Turun? |
Posisi suku bunga acuan diproyeksi akan bertahan sampai kuartal I dan II-2018 sampai BI menemukan alasan yang cukup kuat untuk kembali menurunkan sebesar 25 basis poin.
Landasannya adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang 5,2% pada 2017 dan 5,4 pada 2018. Ini tidak terlepas dari kondisi global yang kondusif, kenaikan belanja pemerintah di semester II-2017 dan efek dari infrastruktur yang sudah berhasil terbangun serta konsumsi rumah tangga yang semakin membaik.
Di samping itu, inflasi juga akan terkendali. Bahkan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi tahun ini. Proyeksi BI, inflasi 2017 sebesar 4% plus minus 1 dan 2018 sebesar 3,5% plus minus 1.
Akan tetapi, proyeksi ini bisa saja salah. Misalnya pertumbuhan ekonomi yang ternyata lebih rendah dari perkiraan. Begitu juga dengan inflasi dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).
"Terlepas dari kebijakan, kami tidak tahu bahwa BI juga dapat memanfaatkan tingkat non-bunga lainnya sebagai alat untuk mendukung pertumbuhan dan melindungi stabilitas makro ekonomi," pungkasnya. (mkj/ang)











































