Bila kekeringan melanda maka hasil produksi dari luas tambah tanam jadi kurang maksimal. Hal itu terjadi apabila di daerah yang mengalami kekeringan tidtotak memiliki persediaan air sama sekali.
"Yang jadi persoalan luas tambah tanamnya tidak bisa maksimal. Kalau ada air, tanaman musim kemarau itu yang paling baik. Makanya namanya gadu. Gadu itu produksi murah, hasilnya bagus. Yang jadi soal, musim kemarau tidak semua daerah punya air. Yang perlu diantisipasi, yang tanam usia dini jangan sampai kekeringan, mati," ujar Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatot Irianto, kepada detikFinance, Jakarta, Senin (4/9/2017)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau panen di September ini bagus untuk mutu siklus mengeringkan tanah. Ideal, kalau hujan terus populasi werengnya juga favorit, kalau kering mati. Kekeringan ini mutu padinya lebih bagus saat kering. Gabahnya mutunya bagus, tidak basah, tidak ada hama, hasilnya lebih tinggi," kata Gatot.
Dia menambahkan, tak ada lagi cerita kekeringan menggganggu produksi padi. Sebab, setiap bulan pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melakukan luas tambah tanam 1 juta hektar, sehingga produksi padi terus ada.
"Kalau dulu, pas musim kemarau luas tanamnya kecil. Sekarang musim tanamnya besar, dari mulai Januari sampai Agustus luas tanamnya besar, di atas 1 juta hektar perbulan, sehingga enggak ada paceklik," terang Gatot.
Sebelumnya Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengatakan untuk menghadapi kekeringan atau paceklik, pihaknya melakukan pompanisasi, menyediakan embung, long storage, hingga melakukan percepatan tanam.
Dirinya mengatakan, paceklik terjadi apabila luas tanam hanya 500 ribu hektar, sementara dirinya telah membuat kebijakan untuk melakukan luas tambah tanam 1 juta hektar/bulan.
"Ini yang menolong sehingga kekeringan kurang. Kami kebijakannya adalah tidak boleh (tanam) di bawah 1 juta hektar," tegas Amran. (hns/hns)











































