"Saat ini ada usulan prakarsa dari Waskita," kata Kepala Bidang Investasi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Sudiro Roi Santoso kepada detikFinance saat dihubungi, Rabu (11/10/2017).
Direktur Program KPPIP, Rainier Haryanto mengatakan, proyek ini masih dalam kajian oleh pihaknya. Dalam perencanaannya, proyek ini ditarget bisa dilelang pada akhir tahun ini, sehingga bisa mulai dibangun pada tahun 2018 atau 2019.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek ini juga masih memerlukan analisis dampak lingkungan, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012. Beberapa dampak utama proyek jalan tol yang harus dikaji di antaranya tingkat kebisingan yang meningkat, lalu lintas disekitar lokasi, kualitas udara, air bawah tanah, sungai, gangguan habitat vegetasi dan fauna, persepsi dan konflik sosial hingga gangguan pada struktur lahan.
Sebagai informasi, proyek tol Bawen-Yogyakarta masuk dalam rencana strategis Kementerian PUPR hingga tahun 2025. Pemerintah pusat menyepakati tol ini masuk ke DIY dari Muntilan Magelang Jawa Tengah. Namun dari Muntilan ke Bawen, rute belum dipastikan.
Menurut Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, ini berbahaya bila dibangun jalan tol di situ. Risiko itu adalah letusan Gunung Merapi. Di perbatasan Magelang-DIY terdapat Jembatan Krasak, di mana ada jalan aliran lahar bila Merapi erupsi.
"Jalan sekarang yang ada saja itu kalau Merapi muntah itu jalan itu dilewati (lahar) semua. Kalau membangunnya makin ke timur dan lewat Jembatan Krasak baru, ya risikonya jadi malah gede," tutur Sultan.
"Makanya sampai sekarang Pemerintah Pusat belum bisa menentukan rute yang dari Bawen ke Yogya ini lewat mana," tukasnya. (eds/dna)











































