Hal tersebut dikarenakan adanya arus modal masuk (inflow) ke Indonesia melalui instrumen keuangan.
"Iya memang (berpeluang menguat), kalau kita lihat sekarang sudah mulai inflows, berarti comfortable dengan yield surat utangnya, dengan melihat nilai rupiahnya. Dan dia lihat kalau dia masuk di level sekarang berarti dia ada ekspektasi ke depan rupiah akan stabil atau bisa lebih kuat," kata Mirza di gedung DPR, Jakarta, Selasa (17/7/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan utama investor kembali menanamkan modalnya di Indonesia karena melihat level imbal hasil (yield) surat utang negara berada di level yang stabil dan bisa lebih baik.
"Maka kemudian punya ekspektasi bahwa rupiahnya stabil atau menguat, dia berani masuk. Makanya kita lihat inflowsnya di SBN mulai ada lagi," jelas dia.
Untuk menjaga momentum tersebut, Mirza menjelaskan Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar.
"Kalau stabil sektor riil bisa membuat budget, membuat anggaran. Karena ini periode-periode sektor dunia usaha mulai bikin budget untuk 2019, sama dengan pemerintah. Kalau kurs stabil orang bisa bikin budget, meneruskan ekspansi," tutup dia.











































