Neraca perdagangan yang surplus dicatatkan oleh sumbangan ekspor sepanjang September sebesar US$ 14,83 miliar dan impor sebesar US$ 14,6 miliar. Kinerja ekspor pada September sendiri mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya, namun terbantu oleh impor yang turun lebih dalam yakni sebesar 13,18%.
Sementara jika dilihat pada tahun kalender (Januari-September 2018), neraca perdagangan Indonesia tercatat masih mengalami defisit sebesar US$ 3,78 miliar. Pekerjaan rumah menekan defisit transaksi berjalan lewat perbaikan neraca perdagangan pun masih terus dinanti untuk diselesaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2016, neraca dagang Indonesia di bulan September juga tercatat surplus sebesar US$ 1,28 miliar dan di 2017 surplus US$ 1,79 miliar. Nilai surplus pada September 2018 yang jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya justru agak berbanding terbalik dengan komentar positif Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyambut gembira perolehan neraca perdagangan September.
"Senang dengan arahnya sudah mulai membaik. Dari sisi neraca perdagangan, terutama nonmigas, September sudah menunjukkan positif, meskipun migas masih negatif," kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/10/2018).
Berikut informasi lebih lengkap mengenai perkembangan neraca perdagangan Indonesia terkini hingga September 2018:
Surplus Tipis US$ 227 Juta
Foto: Istimewa
|
Kinerja ekspor sendiri mengalami penurunan 6,58% dibandingkan Agustus 2018. Sementara secara tahunan (September 2018 dibandingkan September 2017) angka ekspor ini naik tipis 1,7%. Pada September 2017, ekspor Indonesia tercatat US$ 14,58 miliar.
Untuk kinerja impor pada September mencapai US$ 14,60 miliar. Angka ini mengalami penurunan sebesar 13,18% dibandingkan Agustus 2018 sedangkan secara tahunan (year on year/yoy) naik 14,18%.
Dengan ekspor sebesar US4 14,83 miliar kemudian dikurangi impor senilai US$ 14,60 miliar, maka neraca perdagangan Indonesia pada September 2018 tercatat surplus sekitar US$ 227 juta.
Berikut data neraca perdagangan RI selama 2018 hingga September:
Januari: defisit US$ 756 juta
Februari: defisit US$ 52,9 juta
Maret: surplus US$ 1,12 miliar
April: defisit US$ 1,63 miliar
Mei: defisit US$ 1,52 miliar
Juni: surplus US$ 1,74 miliar
Juli: defisit US$ 2,03 miliar
Agustus: defisit US$ 1,02 miliar
September: surplus US$ 227 juta
Ekspor Turun
Foto: Pradita Utama
|
Sementara secara tahunan (September 2018 dibandingkan September 2017) angka ekspor ini naik tipis 1,7%. Pada September 2017, ekspor Indonesia tercatat US$ 14,58 miliar.
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti menjelaskan, untuk ekspor komoditas migas secara bulanan (month to month/mtm) mengalami penurunan 15,81%. Kemudian ekspor non migas juga turun 6,58%.
Ekspor minyak secara keseluruhan mengalami penurunan, sedangkan untuk komoditas non migas yang mengalami penurunan secara bulanan, antara lain mesin, perhiasan permata, hingga pakaian jadi.
"Sedangkan untuk kelompok non migas yang mengalami kenaikan harga adalah biji kerak dan abu logam, benda-benda dari besi dan baja dan pulp (bubur kayu)," tutur Yunita.
Pola penurunan ekspor ini sudah terjadi dalam tiga tahun terakhir. Pada periode yang sama tahun lalu juga tercatat turun dari US$ 15,19 miliar menjadi US$ 14,58 miliar.
"Untuk ekspor non migas juga sama, mengalami penurunan. Baik di tahun 2016 dan 2017. Jadi polanya sama," tambahnya.
Penurunan ekspor non migas Indonesia tertinggi pada September 2018 tercatat kepada China dengan komoditas produk kimia, lemak dan minyak hewan nabati, bijih, kerak, dan abu logam.
Kemudian, Jepang juga tercatat mengalami penurunan dalam ekspor non migas dengan produk pakaian jadi bukan rajutan dan bahan kimia organik, serta Singapura yang mengalami penurunan pada komoditas mesin dan peralatan listrik, perhiasan dan permata, besi dan baja.
Di sisi lain, ada juga negara yang mengalami peningkatan ekspor tertinggi, antara lain Korea Selatan US$ 87,5 juta dan Bangladesh US$ 66,6 juta dengan komoditas yang paling signifikan adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, dan perangkat optik.
Pengaruh B20 belum kelihatan
Foto: Pradita Utama
|
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Yunita Rusanti mengatakan pihaknya belum melihat adanya pengaruh penggunaan B20 di dalam negeri untuk penurunan impor migas. Penggunaan B20 di awal September kemungkinan baru bisa dilihat jelas pengaruhnya pada bulan depan.
"B20 kita belum terlalu kelihatan. Itu kan pencampuran. Harapannya impor bahan bakar diesel berkurang. Mudah-mudahan itu membantu penurunan impor. Bulan depan mudah-mudahan bisa dilihat lebih mendalam," katanya di kantor pusat BPS, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2018).
Implikasi dari penggunaan B20 sendiri bisa dilihat dari impor hasil minyak, karena komponen bahan bakar yang diganti adalah 20% solar yang menjadi bahan bakar nabati. Pada September 2018, impor hasil minyak tercatat sebesar US$ 1,3 miliar atau turun 23,06%.
"Mudah-mudahan bulan depan bisa kita ekspor lebih dalam lagi mengenai komponen ini. Soalnya polanya pada periode yang sama tahun lalu juga mengalami penurunan," jelas Yunita.
Begitupula dengan kebijakan pemerintah menaikkan PPH 22 impor yang juga baru direalisasikan pada pertengahan September. Dua kebijakan tersebut belum terbaca pengaruhnya.
Daftar barang yang masih diimpor
Foto: Pradita Utama
|
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan terjadi pada impor migas dan non migas masing-masing US$ 4,7 miliar (27,14%) dan US$ 21,54 miliar (22,64%). Peningkatan impor migas disebabkan oleh naiknya impor seluruh komponen migas, yakni minyak mentah (40,51%), hasil minyak (22,53%) dan gas (17,8%).
Sedangkan impor non migas, terjadi peningkatan pada 10 golongan barang HS 2 digit selama periode Januari-September 2018. Barang-barang tersebut di antaranya mesin dan pesawat mekanik (16,89%), mesin dan peralatan listrik (13,59%), benda dari besi dan baja (2,49%), serealia (2,45%) dan ampas atau sisa industri makanan (1,91%).
Kemudian ada perhiasan/permata (1,68%), bubur kayu atau pulp (1,16%), filamen buatan (1,12%) buah-buahan (0,78%) dan kakao atau coklat (0,47%).
Selama September 2018 sendiri, golongan buah-buahan mengalami peningkatan impor tertinggi yakni US$ 42,2 juta atau 66,46%. Selanjutnya adalah cokelat atau kakao yang meningkat 50,58% dan serealia sebesar 15,31%.
Negara pengimpor tertinggi komoditas non migas tersebut adalah China dengan sumbangan 27,83%. Kemudian disusul oleh Jepang 11,4% dan Amerika Serikat 5,87%.
Singapura, Thailand dan Malaysia menjadi tiga negara ASEAN paling tinggi penyumbang impor, sedangkan untuk Uni Eropa, paling banyak berasal dari Jerman, Belanda dan Italia.
Respons Sri Mulyani
Foto: Rachman Haryanto
|
"Senang dengan arahnya sudah mulai membaik. Dari sisi neraca perdagangan, terutama nonmigas, September sudah menunjukkan positif, meskipun migas masih negatif," kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/10/2018).
Sementara untuk sektor migas masih tercatat negatif. Sri Mulyani berharap supaya program Biodiesel 20% atau B20 bisa mulai terasa dampaknya hingga akhir tahun, sehingga konsumsi impor akan tercatat positif.
"Kita tentu berharap dengan B20 bisa menurunkan konsumsi, sehingga nanti akhir tahun bisa tercapai positif. Tetapi trennya sudah benar, meski rate-nya harus akselerasi lebih cepat," katanya.
Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa penurunan impor terjadi karena adanya penyesuaian atas Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 atau pajak impor. Ada sebanyak 1.147 barang impor yang pajaknya dinaikkan.
"Yang lainnya kita mengharapkan industri manufaktur lebih cepat lah. Jadi ekspornya. Karena pertumbuhan ekspornya masih sangat kecil, belum meningkat. Tapi impor walaupun growth-nya turun, tapi yoy masih 14%, itu masih terlalu tinggi," tuturnya.
Halaman 2 dari 6