Selain soal Jokowi Marah, Dahlan Iskan Juga Bahas Luhut dan Susi

Selain soal Jokowi Marah, Dahlan Iskan Juga Bahas Luhut dan Susi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 30 Jun 2020 13:33 WIB
Mantan Dirut PLN yang juga mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Dahlan diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan 21 gardu listrik di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada 2011-2013. Dahlan tampak didampingi pengacaranya Yusril Ihza Mahendra. Lamhot Aritonang/detikcom.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Eks Menteri BUMN Dahlan Iskan menyinggung Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam tulisannya yang menyoroti kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dahlan juga membahas eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Dalam laman pribadinya disway.id, Dahlan mengatakan efektif atau tidaknya seorang Menteri Koordinator (Menko) tergantung pada wibawanya. Menurutnya, Luhut bisa efektif bukan karena jabatan, tapi karena kepribadiannya.

"Mungkin Menko Luhut Panjaitan bisa efektif bukan karena jabatannya, tapi karena kepribadiannya. Ia pribadi yang mumpuni. Suaranya keras --karena ia orang Batak. Kalau ia membentak menakutkan --apalagi ia seorang jenderal," kata Dahlan seperti dikutip detikcom, Selasa (30/6/2020).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, Dahlan Iskan mengatakan, yang tidak bisa dilakukan Luhut ialah mengganti menteri di bawahnya. Menurutnya, semarah apapun Luhut tetap saja kewenangannya terbatas.

"Menteri Kelautan waktu itu, Susi Pudjiastuti, tetap saja tenang. Pak Luhut hanya bisa sebatas marah. Apalagi suara Susi juga keras. Kalau membentak juga menakutkan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Terkait soal kemarahan Jokowi, Dahlan menilai, kemarahannya sangat 'Jawa'. Ia juga menilai, dalam kemarahannya itu Jokowi menempatkan dirinya sebagai chairman, bukan CEO.vMungkin, kata Dahlan, Jokowi bergarap Menko lah yang menjadi CEO di kementeriannya masing-masing.

"Gaya marahnya sangat Jawa. Marah di podium. Dalam bentuk ceramah. Atau arahan. Bukan marah di meja rapat. Mungkin karena beliau seorang presiden. Yang memerankan diri sebagai chairman. Bukan seorang CEO perusahaan. Mungkin presiden berharap para Menko-lah yang menjadi CEO di kemenko mereka masing-masing," imbuh Dahlan Iskan.

Namun, ia menilai, Menko tak bisa berperan sebagai CEO karena wewenangnya terbatas. Sebab, Menko hanya bersifat koordinator.

"Tapi Menko tidak mungkin bisa menjadi CEO. Menko itu, seperti juga namanya, hanya bersifat koordinator. Bukan pengambil keputusan. Entahlah kalau pembagian tugas yang sekarang sudah berubah, menko boleh mengambil putusan," ujarnya.

"Sepanjang keputusan masih tetap di tangan menteri, peranan Menko sangat terbatas. Ia bisa memanggil para menteri. Memarahi mereka. Tapi marah saja tidak cukup. Yang ambil keputusan tetap menteri. Yang ambil langkah tetap jajaran di kementerian," ungkap Dahlan.


Hide Ads