img_list
Follow detikFinance
Jumat, 29 Jun 2018 16:05 WIB

Mengenal Indeks Saham

Ellen May - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Apa Itu Indeks Saham?
Seringkali kita mendengar istilah indeks harga saham. Apa itu indeks harga saham?

Mengapa kita perlu mengetahui indeks harga saham? Indeks adalah ukuran statistik perubahan gerak harga dari sekumpulan saham. Pergerakan indeks mewakili bagian dari pergerakan pasar secara keseluruhan.

Nilai indeks dipengaruhi oleh harga saham-saham yang berada di dalam portofolio indeks tersebut dan bobot masing-masing saham. Semakin banyak saham yang beredar dan semakin besar nilainya, semakin besar bobot saham tersebut dalam mempengaruhi pergerakan indeks.

Indeks Harga Saham Gabungan atau yang dikenal dengan IHSG adalah indeks utama yang menjadi indikator pergerakan semua saham yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia.

Pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh saham-saham yang berkapitalisasi besar, yang sering kali disebut index mover atau saham penggerak indeks.

Beberapa contoh saham berkapitalisasi besar penggeraknya indeks adalah UNVR, BBRI, BBCA, BMRI, ASII, AALI, SMGR, GGRM, HMSP.

Tidak semua saham naik ketika IHSG naik. Demikian pula ketika IHSG turun tidak semua saham turun. Saham-saham yang bergerak berlawanan dengan gerak IHSG ini biasanya merupakan saham berkapitalisasi kecil yang bukan merupakan penggerak indeks, yang sering kali bergerak karena di goreng.

Indeks Apa Saja yang Ada di Bursa Efek Indonesia?

Setelah IHSG, ada beberapa indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia yang merupakan bagian dari IHSG.

Di antaranya adalah: Indeks sektoral, yaitu indeks yang mewakili pergerakan sekumpulan saham dari sector tertentu.

Contoh: sector pertambangan, agrikultur, industri dasar dan kimia, aneka industri, barang konsumsi, property, infrastruktur, utilitas, transformasi, finance, perdagangan, jasa, dan investasi.

Sangat penting bagi seorang trader dan investor untuk memahami tren sectoral yang sedang berjalan saat ia akan membeli sebuah saham.

Salah menentukan timing dan sector akan berakibat timbulnya kerugian dan memakan waktu lama untuk kembali ke posisi semula.

Sebagai contoh, tahun 2006-2007 sektor pertambangan dan sektor energi sedang dalam masa jaya. Ketika itu, investor saham dan investor reksadana yang membeli produk investasi berbasis saham sector pertambangan akan untung besar.

Namun, jika investor membeli saham pertambangan dan energi pada awal 2008, sampai tahun 2015 kedua sector ini terpuruk karena perlambatan perekonomian.

Indeks LQ45, yaitu indeks yang menjadi indikator pergerakan 45 saham yang dipilih berdasarkan likuiditas, kapitalisasi, dan frekuensi transakasi yang terbesar di Bursa Efek
Indonesia.

Saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45 ini dinilai ulang setiap 6 bulan sekali. Saham yang masuk dalam kategori ini harus tercatat di Bursa Efek Indonesia paling tidak 3 bulan.

Selain itu saham yang tergabung dalam LQ45 harus masuk dalam 60 besar dari total transaksi saham dipasar regular selama 12 bulan terakhir.

Jika Anda meletakkan uang Anda pada reksadana, biasanya performa reksadana tersebut lebih kurang adalah setara indeks yaitu berkisar 15%-30% per tahun.

Dengan belajar memilih saham dengan baik dan benar maka portofolio Anda bisa melebihi kinerja tersebut. (dna/dna)
Klik di sini untuk mengirimkan pertanyaan yang ingin dikonsultasikan dengan kami. Konsultasi seputar perencanaan keuangan, properti dan UKM.
Baca Juga
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed