Follow detikFinance
Senin, 11 Nov 2013 09:21 WIB

Pria Ini Sukses 'Sulap' Rp 300 Ribu Jadi Ratusan Juta Lewat Bisnis Keripik

- detikFinance
Riza Rizki (Foto: dok myoyeah.com) Riza Rizki (Foto: dok myoyeah.com)
Jakarta - Bila jalan-jalan ke Bandung, tak lengkap rasanya pulang tanpa membawa oleh-oleh. Salah satu toko oleh-oleh yang cukup tersohor di Bandung adalah Nanutz Store yang terletak di Istana Sekar Wangi dan Soekarno Hatta.

Kalau melihat tokonya yang cukup mentereng seperti sekarang, sepertinya tak ada yang bakal menyangka bahwa usaha toko aneka snack dan oleh-oleh ini dimulai oleh Riza Rizki dengan modal yang sangat cekak, yaitu hanya Rp 300.000.

Pria asli Bandung yang biasa dipanggil Ikhie ini memulai usahanya pada pertengahan 2011. Ia memulai produksi dan promo produknya lewat sebuah pameran yang digelar di daerah Trunojoyo, Bandung.

Dengan modal Rp 300.000 tersebut, ia benar-benar menjajakan produk dengan kemasan seadanya. Produk pertamanya hanya berupa nachos alias pangsit goreng yang dibungkus plastik dengan tempelan stiker kertas. Hasil penjualan di pameran? Jeblok!

Selain karena tampilan produk yang tak meyakinkan, faktor pemicu lain menurut Ikhie adalah tren keripik singkong yang saat itu sedang melambung, sehingga nachosnya kurang diperhatikan. Tapi kegagalan itu tak membuat Ikhie menyerah. Bermodal pengetahuannya di bidang desain, dia membuat kemasan yang lebih eye cathing dengan gaya komikal.

Gaya komikal beberapa karakter yang aneh dan tampak kepedasan menjadi ciri khas Nanutz dan titik balik usaha Ikhie. Kemasan yang memang terlihat aneh dan menyita perhatian mata ini sering membuat orang penasaran.

Salah satunya adalah reporter Bosan Jadi Pegawai, Trans TV yang sedang melakukan liputan di Bandung. Melihat packaging yang aneh tersebut sang reporter kemudian mengajukan usul untuk meliput Nanutz dan disetujui.

Liputan yang dilakukan pada akhir Desember 2011 tersebut ternyata tayang pada 1 Januari 2012. Efek pemberitaan di layar kaca tersebut di luar dugaannya.

“Saya ingat waktu itu begitu acara tayang ada 2.600 SMS masuk ke HP saya. Telepon yang tidak terangkat tidak terhitung. Followers Nanutz dari yang awalnya hanya berjumlah 314, langsung naik menjadi 4.200 dalam waktu 10 menit saja,” kenang Ikhie dikutip dari myoyeah.com, Senin (11/11/2013)

Respons pembeli pun luar biasa setelah acara tersebut tayang. Banyak calon pembeli antre di rumah sekaligus toko Nanutz. Tanggal 1 Januari yang ia tetapkan sebagai hari libur untuk karyawan akhirnya dibatalkan dan hari itu toko yang tutup dibuka dadakan. Bukan cuma pembeli offline yang membludak, tapi pembelian online pun langsung mengantre panjang. Hal ini tentu menaikkan omzetnya secara drastis.

Bahagia? Pastinya. Tapi ternyata ada kisah yang membuat hatinya gundah. Saking banyaknya pembeli baik offline maupun online, dia sampai keteteran menghadapi permintaan pelanggan.

Di tengah kesibukannya mengurusi membludaknya pesanan, ia mendapat panggilan dari kepolisian. Sempat bingung dan bengong, Ikhie baru ngeh ternyata ada seorang pembeli yang melaporkan delik penipuan karena keripik pesanannya via online tak kunjung datang. Setelah menerangkan tentang kerepotanya karena pesanan membludak dan akan segera mengirim pesanan tersebut, akhirnya Ikhie dibebaskan dan tidak jadi ditahan.

Suka duka adalah kombinasi yang lengkap setelah ia tampil di acara Bosan Jadi Pegawai. Meski melalui hal-hal melelahkan dan kadang terdengar konyol–seperti delik penipuan dan dipanggil polisi–Ikhie akhirnya meraih kesuksesan lewat usaha yang dirintisnya dengan modal super cekak.

Hingga pertengahan tahun 2012, ia baru sempat menghitung omzetnya dan ternyata berhasil membukukan omzet hingga Rp 780 juta. Bukan hanya itu saja, ia juga bisa berbagi dengan lebih banyak orang. Di akhir 2011 jumlah karyawannya masih tiga orang, tapi sekarang sudah lebih dari 15 orang.

Apa Kuncinya?

Selain kerja keras, Ikhie mengatakan bahwa inovasi adalah kunci yang tak kalah penting. Ia selalu melakuan inovasi terhadap produk-produknya. Sekarang ini, Nanutz mungkin menjadi salah satu snack dengan varian jenis dan rasa terbanyak.

Sudah ada 20-an jenis snack ala Nanutz dan masing-masing jenis tersedia dalam 18 varian rasa. Inovasi lain yang tak kalah penting adalah Nanutz konsisten dengan bahan baku tanpa pengawet dan MSG.

“Saya ingin memberikan snack keluarga yang bisa dinikmati siapa saja dan menyehatkan. Karena itu snack saya umurnya lebih pendek. Kalau dengan pengawet snack bisa tahan 6 bulan, kalau Nanutz hanya 3 bulan,” lanjut Ikhie.

Beberapa produk terbaru kreasi Ikhie adalah seblak nyere instan. Seblak adalah mi jajanan tradisional yang biasa disebut mi lidi, karena bentuknya lurus seperti lidi.

Seblak nyere ini adalah inovasi terbaru dari Ikhie yang beda dari produk-produk sebelumnya yang rata-rata berupa produk kripik. Seblak nyere instan ini berupa mi instan seduh dalam kemasan gelas. Seperti produk-produk lainnya, seblak nyere instan ini juga tersedia dalam 18 varian rasa.

Selain inovasi dalam hal rasa, Ikhie juga berinovasi dengan nama produk. Salah satu produk yang pasti langsung diingat orang adalah Mariyubayam yaitu produk keripik bayam goreng. Produk ini plesetan dari kata mariyuana alias ganja. Tentu produknya tidak mengandung ganja sama sekali dan justru baik bagi kesehatan, karena bayam mengandung nilai gizi tinggi.

Inovasi-inovasi yang dilakukan Ikhie tersebut yang kemudian menarik perhatian orang dan membuat mereka bergabung dalam jaringan reseller Nanutz.

Total hingga saat ini sudah ada 70 reseller alias mitra penjual yang tersebar di 28 provinsi. Jaringan reseller inilah yang membuat omzet Nanutz masih wah di saat beberapa brand keripik mulai merosot. Ikhie mangaku rata-rata omzetnya sekarang ini di kisaran Rp 175 juta per bulan.



(ang/ang)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed