Tapi Kelom Geulis Keng tetap bertahan sebagai satu-satunya toko kelom geulis di Bandung sejak tahun 1942.
Adalah Yukim (61) yang meneruskan usaha kelom geulis yang dirintis sang kakek yaitu Keng. Keng, hijrah dari Tasik ke Bandung tahun 1940-an yang bertepatan dengan masa penjajahan Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 50-an adalah zaman keemasan Kelom Geulis Keng. Saat itu model-modelnya jadi tren. Siapa yang tidak memakai Kelom Geulis Keng disebut ketinggalan zaman," tutur Yukim.
Yukim menuturkan saat itu, kelom geulis dipakai wanita untuk mempercantik busana kebaya. Penggunanya biasanya turut melengkapinya dengan payung Tasikmalaya.
Kelom Geulis Keng pun mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Sekitar tahun 80-an toko Keng pun pindah dari Pecinan lama ke Cihampelas. Yukim mengaku Cihampelas memang tempat tinggal mereka sejak dulu namun membuka toko di Pecinan.
Di tahun ini usaha kelom geulis dimulai lagi dari nol. Menurut cerita Yukim dalam pasang surut tadi ada banyak kendala bagi perkembangan Kelom Geulis Keng termasuk faktor tren. Bahkan selama sepuluh tahun Kelom Geulis Keng pernah menghilang dari peredaran.
Berbekal semangat, Yukim pun meneruskan usaha ini karena dirinya tidak ingin mengerjakan sesuatu setengah-setengah. "Apa yang dikerjakan harus dijiwai. Semua tidak bisa instan," ujar Yukim.
Kini dengan menggunakan pola manajemen keluarga Yukim pun menjalankan usaha ini. Meski tak lagi menjadi primadona karena digempur oleh banyak pesaing Kelom Geulis Keng mencoba untuk terus eksis. Berharap kejayaan zaman keemasan bisa dikembalikan. (ema/ddn)











































