Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Olahraga Nasional Indonesia (Asioni) Irwan Suryanto kepada detikFinance, saat ditemui di Gedung Departemen Perindustrian Selasa (10/2/2009).
"Nggak ada masalah, ekspor belum ada penurunan. Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin masih jalan, moga-moga tahun ini nggak terpengaruh," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilik industri bola merek 'Triple S' ini mengaku produksi bolanya saat ini mencapai maksimal 100.000 per bulan. Bahkan tahun ini ia berencana meningkatkan kapasitas produksinya dengan mengembangkan produk bola futsal.
"Melemahnya kurs dari 9100 sampai 11.000 atau naik 20%, ini moment untuk meningkatkan gaji karyawan," ujarnya.
Meskipun masih terlihat aman, ia mencoba mengubah strategi sebagai antisipasi krisis yaitu dengan memaksimalkan peluang pasar dalam negeri, diantaranya dengan mengurangi komposisi ekspor dan meningkatkan komposisi pasar dalam negeri.
"Tahun ini kita coba ubah strategi ekspor, ada rencana pengalihan komposisi, kalau memungkinkan sama-sama 50%," imbuhnya.
Irwan menambahkan, sektor industri bola saat ini relatif tertolong karena ekspor bola Indonesia tidak ditujukan ke pasar AS maupun Eropa yang merupakan negara-negara yang terkena krisis. Selain itu, sektor ini juga lebih banyak menggunakan bahan baku lokal, yang mencapai 85% sedangkan impor 15% khusunya untuk karet bagian dalam bola.
Berdasarkan pengalamannya melanglang buana, di industri bola kaki berbasis ekspor. Ia mengakui negara pesaing terberat berasal dari India dan Pakistan yang mampu memproduksi 120.000 bola per hari.
"Kalau di pabrik saya saja hanya 650.000 setahun, tapi kalau skala nasional produksinya 2 juta buah," imbuhnya.
Khusus merek Triple S yang ia miliki, pada tahun 2008 produksinya mengalami kenaikan 10% dari tahun 2007. Pada tahun ini ia berharap masih ada kenaikan diangka yang sama.
Mengenai harga, dikatakannya produk bola Indonesia relatif kompetitif yaitu berada dikisaran US$ 3 sampai US$ 7 dollar (untuk yang premium) per buah. Maka tidak heran, negara-negara Amerika Latin yang mempunyai kebutuhan bola mencapai 500.000 per bulannya. Sebagian besar dipasok dari bola Indonesia.
Pria yang selalu berpeci hitam ini mengaku omset penjualan bola kakinya bisa mencapai Rp 20 miliar per tahun. Bahkan dengan rencananya mengembangkan produksi bola futsal yang saat ini masih dalam jumlah kecil, ia yakin omsetnya akan terus membesar.
Siap Menyongsong Piala Dunia 2022
Mendengar kabar Indonesia mencalonkan diri menjadi tuan rumah piala dunia 2022, Irwan sangat senang sekali. Bahkan ia berkeinginan Indonesia benar-benar terpilih sebagai tuan rumah piala dunia sepak bola. Paling tidak produksi bola asal Majalengka-nya bisa dipakai secara resmi.
"Saya berharap Indonesia terpilih," harapnya.
(hen/qom)











































