"Ini kayunya umurnya sudah ratusan tahun. Ini awet nggak kena rayap. Kita banyak ekspor ke China, Polandia, Dubai, Belgia, Swiss, sama Malaysia. China paling besar, mereka biasanya pesan ranjang," kata pemilik furniture kayu jati, Sukesi kepada detikFinance di sela-sela Trade Expo Indonesia (TEI) 2013 di JIExpo, Jakarta, Kamis (17/10/2013).
Kayu-kayu yang didapat dari Ngawi, Jawa Timur tersebut tak hanya dibuat produk ranjang. Melalui tangan kreatifnya, kayu bernilai tinggi itu ia olah menjadi produk seperti kerajinan tangan sampai satu set meja dan kursi hingga gazebo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukesi menyebutkan, produk-produk buatannya dibanderol mulai dari harga Rp 200 ribu hingga Rp 15 juta per produk. Usahanya dibantu oleh 20 orang tenaga kerja lokal, Sukesi mampu mengantongi omzet hingga Rp 50 juta per bulan.
"Harga kerajinan tangan Rp 200 ribu, ranjang Rp 6 juta, gazebo Rp 15 juta. Kita dibantu tenaga lokal 20 orang. Rata-rata sebulan bisa produksi 10-15 meter kubik kayu gelondong. Omzet ya sekitar Rp 50 juta per bulan ya," katanya.
Bisnis tersebut dijalani Sukesi dari awal tahun 1990-an. Ketika itu, Sukesi hanya menjual kayu-kayu limbah. "Lama-lama ada yang pesan untuk rumah, akhirnya buat kusen pintu, dan lain-lain, ada furnitur lemari," ucapnya.
Perjalanan bisnis terus berkembang. Di tahun 1995, Sukesi memfokuskan untuk mengembangkan furnitur kayu jati. Tak sia-sia, di tahun 2001, dia mampu menjangkau pasar ekspor.
"Bisnis terus berkembang. Tahun 1995 cenderung ke furnitur, mulai dikenal. Tahun 2001 dibina Disperindag Provinsi Jatim dan ikut pameran-pameran sampai ke luar negeri. Dari situ mulai banyak permintaan ekspor," ujarnya.
Ia menuturkan menjalankan bisnis furnitur kayu jati tak selalu mulus, kondisi ekonomi dunia saat ini yang belum juga stabil berpengaruh terhadap penjualan produk kayu jati. Sukesi pun menggenjot pasar dalam negeri ke wilayah Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
"Pasti pengaruh, pasar luar lesu. Kita paling banyakin ke Jakarta, Bandung, Surabaya tapi harga kan beda ya," kata Sukesi.
Dia juga mengeluh produk-produk buatan tangan langsung masih kalah bersaing dengan pabrikan, apalagi kini upah tenaga kerja makin tinggi. Upah tenaga kerja saat ini Rp 50 ribu-Rp 70 ribu per hari di luar makan, ngopi, dan rokok.
"Kalau lokal seperti buatan tangan kalah saing dengan pabrikan yang dikerjakan mesin dan lebih modern. Keunggulan buatan tangan nilai seninya tinggi dan original," katanya.
(drk/hen)