"Dahulu kuliah di Bandung. Sembari saya kuliah dulu saya juga bekerja karena ekonomi keluarga saya yang pas-pasan," kata pria lulusan STIE Pariwisata Yapari-Aktripa, Bandung lulusan 2004 ini kepada detikFinance, Jumat (17/1/2014)
Jauh sebelum sukses berbisnis spa, usai kuliah Putu pernah bekerja di Singapura, di sebuah kasino yang ada di kapal. Ia hanya bertahan 2 tahun bekerja sebagai seorang waiter atau pelayan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putu mengaku sempat frustasi dengan kegagalan-kegagalannya, akhirnya orang tuanya meminjamkan uang Rp 40 juta agar bisa lebih mudah masuk ke kapal pesiar. Kemudian Putu menikah, dan punya istri yang bekerja di spa.
"Sembari menunggu pengumuman saya kerja di spa di Bali waktu itu awal tahun 2007," katanya.
Ia sempat mengajukan gagasan kepada bosnya agar usaha spa di tempatnya bekerja bisa maju dengan berbekal dengan pengalaman di Singapura dan ilmu pariwisata saat kuliah di Bandung. Sayangnya ide pemikirannya ditolak mentah mentah oleh sang bos.
"Padahal saya yakin kalau ide saya itu diterapkan pasti salon dan spa tersebut akan lebih maju," katanya.
Dari situlah titik awal nasibnya berubah 180 drajat, ia dan istri nekat keluar sebagai pegawai spa, lalu menyewa lahan kosong di tempat buang sampah dengan harga sewa Rp 10 juta untuk 10 tahun. Putu mengajukan pinjaman di bank melalui orang tuanya sebesar Rp 100 juta namun yang dikabulkan hanya Rp 60 juta.
"Dengan modal Rp 60 juta itu saya mulai bangun dua ruang spa yang sangat sederhana. Bahkan banyak tamu yang bilang itu adalah kandang kuda. Bukan hanya itu brosur saya buat sendiri kemudian saya print sendiri sampai printer saya rusak. Akhirnya saya foto copy hitam putih dan saya sebarkan sendiri. Waktu itu ada yang telepon dan saya jemput pake motor tua warisan orangtua saya," kenang Putu.
Pengusaha beromzet miliaran ini tak langsung meraih pendapatan besar. Satu bulan pertama usahanya berjalan, omzetnya hanya Rp 900.000 pada bulan kedua omzetnya melonjak jadi Rp 5,2 juta. Putu mengaku, meski mengalami kenaikan omzet, ada hambatan lainnya yaitu sang istri ternyata sudah tidak betah menjalani bisnisnya dan ingin mencari pekerjaan lain.
"Saya bisa yakinkan istri saya kalau jangan menyerah. Dan akhirnya istri saya mengerti dan nggak jadi nyari kerja. Omzet pada bulan yang ke-3 mencapai Rp 15 juta, kemudian setiap bulan selalu naik dan akhirnya stabil sampai sekarang," katanya.
Ia kemudian mengembangkan bisnisnya pada 2009, dengan membangun outlet 6 kali lebih besar dan mulai dibuka pada April 2010. Hingga saat ini 3 outlet milinya di Ubud.
"Mulai April 2010 sudah ada 3 outlet yang semuanya Ubud, Bali. Sekarang omzet Rp 2,6 miliar per tahun," katanya.
Sebagai pengusaha yang sukses dan dimulai dari nol, Putu punya pesan kepada pengusaha pemula atau yang ingin membuka usaha. Menjalankan bisnis itu ibarat orang yang akan naik mobil butuh kunci dan bahan bakar, sehingga mobil bisa melaju dan berjalan kencang.
"Kunci sukses dari saya pertama harus punya impian, kemudian tekad atau keberanian motivasi dan semangat. Banyak orang kaya tapi nggak berani dia buka usaha. Ini bukti saya nggak punya duit tapi saya pinjam. Terus dalam perjalanan harus ada bensin, bensinnya itu semangat. Dan impian itu tujuan kita yang harus kita capai. Itu yang saya pegang hingga saat ini," katanya.
(hen/dnl)










































