Sebelum berjalan mulus dengan usaha kuliner Jepang, Andy sempat menjalankan usaha sebagai penyalur batu kapur. Tapi pilihan tersebut sepertinya kurang pas baginya dan dia kemudian banting setir ke bidang kuliner.
Keputusan Andy untuk banting setir dari bisnis penyaluran batu kapur ke bisnis kuliner dilatarbelakangi prospek bisnis lamanya yang mulai meredup. Prospek bisnis memasok batu kapur ke perusahaan bata ringan mulai meredup pada 2010. Dia pun kemudian mempertimbangkan untuk menyudahi bisnis tersebut, karena masa depannya kurang cerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisnis tetangganya tersebut berjalan dengan cukup baik dan menghasilkan pemasukan yang lumayan. Andy pun kemudian berpikir mengapa tidak mencoba bisnis sejenis yang pemainnya belum terlalu banyak.
Tanpa latar belakangan pendidikan dan pengalaman kuliner sama sekali Andy nekat menjalankan usaha kuliner Jepang, khususnya takoyaki. Penganan berbentuk bola ini dia jajakan dengan sepeda motor.
Waktu itu dia memulasi usaha dengan modal sekitar Rp 7 juta. Sebesar Rp 4 juta dia gunakan untuk membeli motor dan sisanya sekitar Rp 3 juta dia gunakan untuk membeli box beserta perlengkapan pendukung lainnya.
Tanpa banyak melakukan pertimbangan Andy menjalankan bisnis takoyaki menggunakan gerobak motor. Hasilnya ternyata jauh dari yang dia harapkan. Pengalamnnya yang minim di bidang kuliner membuat rasa takoyaki buatannya kurang disukai konsumen.
Akhirnya dia harus bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan selera konsumen. Setelah berkali-kali mencoba akhirnya dia berhasil.
Hal kedua yang menjadi kendala pengembangan bisnisnya adalah para pesaing yang telah menduduki lokasi-lokasi strategis tempat nongkrong anak muda.
“Etikanya kalau sudah ada pedagang makanan jenis tertentu di satu lokasi kan tidak boleh ada pedagang sejenis. Jadi berjualan keliling bukan habitat kami,” kata Andy.
Dia pun kemudian mengubah dua hal mendasar dari bisnis kuliner ala Jepang ini. Pertama mengganti nama brand dari Joy Takoyaki menjadi Takolada. Joy Takoyaki menurutnya kurang menjual dan brand Takolada lebih cocok dengan menu yang buatnya.
Takolada terdiri dari dua kata yaitu Tako yang diambil dari kata takoyaki dan Lada yang diambil dari kata lada sebagai salah satu bumbu utama menu kulinernya.
Selain mengganti nama, dia mengganti strategi penjualannya dari berjualan keliling menjadi membuka gerai permanen. Tempat permanen pertama Takolada adalah Miko Mall, Bandung. Gerai pertama ini dibuka pada 2012.
Perubahan strategi ini perlahan mengubah peruntungannya dan bisnisnya perlahan mulai menanjak. Setelah itu gerainya bertumbuh menjadi empat cabang. Gerai Takolada sekarang ada di Jalan Riau No. 83, Jalan Kalimantan No.12, Floating Market dan Kantin SMP Taruna Bakti.
Andy mulai bisa tersenyum dengan usaha yang dijalankannya. Perjuangannya untuk memperbaiki produk dan strategi mulai menemukan jalan terang. Rintangan yang dihadapinya mulai bisa dilewati bahkan dilompati berkat kerja keras.
“Dalam usaha jangan mudah menyerah, karena segala sesuatu pasti ada rintangannya,” kata Andy.
Sekarang ini Takolada sudah memiliki varian menu cukup beragam, jumlahnya di atas 20 menu. Dengan kisaran harga makanan Rp 13-22 ribu dan minuman Rp 5-12 ribu, rasanya cukup bersahabat dengan kantong pelajar dan mahasiswa yang menjadi target pasar Takolada. Dari empat gerai yang dimiliki, omzet Takolada cukup wah yaitu mencapai Rp 100 juta per bulan.
Mimpi Andy sekarang adalah melebarkan sayap usahanya agar cabangnya terus bertambah, tidak sebatas di kota Bandung.
(ang/ang)











































