Kisah Cak To, Pria Lulusan SMA yang Raup Ratusan Juta dari Bisnis Bakso

- detikFinance
Minggu, 22 Jun 2014 15:07 WIB
Jakarta - Besarnya penghasilan seseorang tidak bisa dipatok dari tingkat pendidikan. Misalnya Wahid Basir Krismanto, pria yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini mampu meraup omzet ratusan juta rupiah per bulan dari berjualan bakso.

Pria berusia 39 ini mengaku tidak mudah meraih sukses di bisnis bakso, banyak jalan berliku yang harus ditempuh. Ia harus berjuang keras dan jatuh bangun hingga akhirnya menciptakan kedai bakso bernama Bakso Kuto Cak To.

Awalnya pria yang biasa disapa Cak To ini harus melewati berbagai macam rintangan untuk bisa mengembangkan bisnisnya di bidang kuliner. Mulai jualan tempe penyet, warung kopi emperan hingga kaos dia lakoni. Namun, kesuksesan belum berpihak padanya.

Hingga akhirnya pada tahun 2004, saat ia memutuskan menikah, tercetuslah ide untuk membuat bisnis bakso dan kedai kopi. Bakso yang ia buat perpaduan antara bakso Solo dan Malang. Alhasil, bakso ini berbeda dari bakso yang sudah ada.

"Saya hanya lulusan SMA, otodidak belajar bisnis sejak SMP dari jualan kaos, tempe penyet, warung kopi, jatuh bangun 7 tahun. Sejak 2004, saya buat bisnis Bakso Cak To bareng istri, ini sudah 10 tahun, berkah nikah," ujarnya saat ditemui di Acara Pameran Waralaba 2014, di JCC Senayan, Jakarta, Minggu (22/6/2014).

Di kedainya tersebut, tak hanya menawarkan bakso, Cak To juga menyediakan mie pangsit ayam jamur, penyetan, tahu bakso, bakwan sapi penyet, iga sapi penyet, ayam geprek penyet, bebek ungkep Suroboyo dan masih banyak lagi.

Untuk bakso ada berbagai macam varian seperti siomay, gorengan, bakso mercon, granat, super kasar, puyuh, ikan, beef, udang, dan lain-lain. Harganya pun cukup terjangkau Rp 2.500 per potong.

Sementara makanan lainnya dibanderol di kisaran Rp 15.000-Rp 28.000 per porsi dan minuman mulai Rp 3.000-Rp 10.000.

"Omzet (satu gerai) bisa Rp 7-8 juta per hari, tergantung ya. Sebulan kira-kira Rp 280 juta. Kita buka setiap hari dari jam 10 pagi-11 malam kalau weekend. Hari biasa jam 10 pagi sampai 10 malam," terang dia.

Cak To mengaku sudah ada sedikitnya 15 mitra dengan konsep business opportunity (BO) yang telah bergabung mulai dari Batam, Medan, Kendari, Kertosono, Madiun, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, dan lain-lain.

Bagi Cak To, kunci sukses berbisnis adalah pantang menyerah, punya kreativitas, semangat, dan ulet.

"Saya jatuh bangun lagi, jatuh bangun lagi. Jangan pantang menyerah, jangan patah semangat, kita habiskan jatah gagal kita, jangan berputus asa. Saya modal awal Rp 12 jutaan sekarang omzet sudah bisa ratusan juta. Yang penting kreativitas, semangat, ulet," cetusnya.

Untuk bisa bermitra dengan Cak To ini, seseorang bisa merogoh kocek sekitar Rp 150 juta untuk kedai berukuran 2,5x2,5 meter persegi. "Itu paling kecil. Ya kayak di food court gitu. Ini sudah keseluruhan termasuk ada royalti 3,5% dari penjualan," katanya.

Sementara untuk kedai berukuran besar seperti restoran, investasi awal mencapai Rp 300 juta dengan royalti 5% per bulan dari penjualan dan dibayar di bulan ketujuh.

"Ini ukurannya 5x10 meter persegi," kata Cak To.

(drk/hen)