Kukuh, Anak Muda yang Keukeuh Hingga Sukses di Bisnis 'Racun' Hama

Kukuh, Anak Muda yang Keukeuh Hingga Sukses di Bisnis 'Racun' Hama

- detikFinance
Rabu, 26 Nov 2014 11:20 WIB
Kukuh, Anak Muda yang Keukeuh Hingga Sukses di Bisnis Racun Hama
Jakarta - Kukuh, anak muda lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) memilih jalur yang benar-benar berbeda dengan kebanyakan anak muda lainnya. Ia memilih terjun ke bisnis pertanian, ketika bisnis kuliner atau teknologi sedang jadi tren.

Ia dan rekannya memiliki Pandawa Putra Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian yaitu memproduksi pestisida khususnya herbisida atau zat menekan atau memberantas tumbuhan pengganggu (gulma). Kini, Kukuh dan rekannya berhasil raup omzet ratusan juta rupiah per tahun.

Pandawa Putra Indonesia didirikan 7 Juli 2012 dalam bentuk CV. Jauh sebelum itu, Kukuh semasa kuliah di Departemen Agronomi Hortikultura IPB juga bekerja di Laboratorium Ecotoxycology and Waste di IPB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga selain kuliah, kami juga update dengan perkembangan pertanian pada praktiknya terutama pada dunia herbisida. Sekarang kami juga telah memiliki PT untuk mendukung perkembangan pasar," kata Kukuh seperti dikutip dari studentpreneur, Rabu (26/11/2014).

Ia mengatakan produk dari bisnisnya adalah Weed Solution atau juga lebih dikenal dengan Solution, merupakan Adjuvant (Penguat) dari Herbisida yang fungsionalnya untuk pengurangan dosis racun herbisida hingga 50%.

"Produk kami lebih ramah lingkungan karena bahan yang digunakan 50% juga merupakan bahan organik dan bahan kimia yang digunakan adalah bahan non racun," katanya.

Melalui produknya juga, Kukuh menawarkan solusi untuk efisiensi biaya pengendalian gulma hingga 20% sehingga selain ramah lingkungan juga lebih menguntungkan konsumen. Kelebihan produknya yaitu bahan yang digunakan asli merupakan kekayaan dari Sumber Daya Alam Indonesia sehingga tidak ada yang impor.

Ia menceritakan alasannya memilih bisnis pertanian, yaitu agar dunia pendidikan yang dipelajarinya bisa diterapkan dalam bisnis di lapangan.

"Selain kuliah kami juga sempat menekuni kerja di bidang pertanian maka Kami bisa melihat peluang yang tidak bisa dibantah, bahwa dunia pertanian memang tidak ada habisnya selama manusia memang butuh makan," katanya.

Kukuh menambahkan, baginya bisnis itu untuk jangka panjang dan juga dampak positif baik untuk lingkungan maupun ke masyarakat juga lebih mengena jika dibandingkan bergerak di bidang lain.

Menurutnya menjalani bisnis pertanian, banyak tantangannya, pertama, SDM di bidang pertanian yang masih banyak kekurangan sehingga dari hulu sampai hilir yang menjadi masalah rata-rata kembali lagi dikarenakan kualitas SDM yang kurang.

Kedua, pelaku bisnis di bidang pertanian maupun pemerintah sering merasa abai dengan potensi SDA yang melimpah, sehingga malas untuk memperbaiki diri dengan teknologi maupun regulasi yang mendukung sektor ini.

Ketiga, mindset masyarakat kita terhadap dunia pertanian yang masih rendah. Padahal, bisa dihitung pemain asing yang bermain di dunia pertanian Indonesia, itu membuktikan bahwa pihak asing sendiri melihat Indonesia sebagai pasar maupun sumber pertanian yang unggul.

"Sangat disayangkan mengingat prediksi World Bank, 20 tahun ke depan dua hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah masalah pangan dan air," katanya.

Ia menargetkan bisa meraup omzet ratusan juta rupiah per tahun dari bisnisnya ini. Harga jual rata-rata produknya Rp 35.000/liter. Jumlah petani yang menggunakan produknya sudah ratusan, baik itu di Jawa, Sumatera. Ia juga akan memperluas jangakauan produknya ke Sulawesi dan Kalimantan.

"Ya, total khusus untuk produk Weed Solution tahun ini diharapkan dapat mencapai nilai sekitar Rp 700-800 juta. Belum jumlah yang banyak memang, namun proses dari pengenalan produk hingga beli memang diperlukan pengamatan, sosialisasi yang biasanya memakan waktu 4-6 bulan," katanya.

Kukuh mengaatakan selama ini produk herbisida 100% diimpor, pemain herbisida yang rata-rata merupakan perusahaan multinasional. Sehingga ia yakin bisnisnya sangat prospektif ke depan.

"Di dunia pestisida, pasar paling besar memang ada di herbisida meskipun juga memang sepertinya yang paling kurang terkenal. Dan gulma sendiri bila dirata-rata dapat mengurangi hasil pertanian sebesar 30%," katanya.

Menurutnya bisnis pertanian di Indonesia ini masih kurang dari segi inovasi. Ia berharap dengan generasi muda kita selain melek teknologi bisa aktif berperan serta dalam pengembangan dunia pertanian di dalam negeri.

Menjalankan bisnis produk herbisida memang tak mudah, ia mengaku sempat frustasi bahkan sempat terpikir untuk berhenti dari bisnisnya karena tak mudah menembus pasar. Namun berkat semangatnya, kini bisnisnya sudah bergulir sudah 2 tahun lebih.

"Kadang diperlukan sudut pandang ataupun pendekatan yang berbeda sehingga seringkali hal yang terlihat sangat rumit menjadi sederhana jalan keluarnya," katanya.

Kukuh berpesan kepada siapa saja anak muda yang mau memulai bisnis tak hanya melihat secara materi atau uang dan ingin cepat untung. Selain itu perlu jeli melihat peluang dan membuka wawasan seperti membaca. Juga jangan lupa dari mentor sebagai pengarah dari bisnis yang dijalani.

"Bisnis itu ibarat lari jarak jauh, bukan sekedar sprint. Kalau dagang, okelah disitu kita bisa berprinsip cepat jual, cepat untung. Motivasi seperlunya saja, jangan terlalu banyak," katanya.

(hen/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads