Pertama adalah bisnis. CT mengatakan, usaha yang ditekuninya kala itu mampu mengantarkannya sebagai mahasiswa terkaya. Padahal teman-temannya banyak yang merupakan anak pengusaha dan pejabat militer.
"Bisnis. Saya adalah mahasiswa terkaya jaman itu. Walaupun di rumah saya orang miskin, rumah petak, nggak ada WC bahkan. Adanya WC umum itu agak jauh dari rumah. Itu realita saya waktu itu," ungkap CT dalam acara d'Preneur di Menara Bank Mega, Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya termasuk makhluk aneh zaman dulu. Karena yang lain biasa hidupnya," sebutnya.
Kedua adalah dari sisi akademik. CT tidak tertinggal untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Sehingga ia bisa menjadi mahasiswa teladan tingkat nasional.
Ketiga adalah organisatoris. CT mengatakan dirinya mampu ikut berorganisasi meski di tengah kesibukan bisnis dan kuliah. Ia merupakan ketua ex officio Dewan Mahasiswa UI yang terakhir.
"Jadi dalam kurun waktu itu, saya bisa mencapai prestasi itu. Oleh karenanya saya pesan, berusaha itu bukan tidak berprestasi. Organisasi akan melatih leadership dan management. Ini peting untuk bekal ke depan," tuturnya.
(mkl/hds)











































