Dari Bisnis 'Bakar Lidah', 2 Pria Ini Bisa Raup Rp 100 Juta/Bulan

- detikFinance
Selasa, 17 Feb 2015 06:56 WIB
Jakarta -

Setiap pengusaha pasti pernah dan akan selalu menghadapi masalah, siapa pun dia. Justru dari masalah itu seorang pengusaha jadi belajar bagaimana menyelesaikan sebuah persoalan.

Dan biasanya ini menjadi ujian naik tingkat bagi seorang pengusaha. Hal inilah yang pernah dirasakan oleh Kharisma Gandhi (28) dan Yakub Raditya Bahri (27), dua sahabat yang mendirikan Kumaramen, kedai ramen yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Produk ramennya ini terkenal punya tingkat kepedasan yang bervariasi hingga level yang tak terbatas sesuai dengan kemampuan lidah konsumen, bahkan mencapai level 100 ke atas yang 'membakar lidah'.

Dua sahabat ini memulai usaha pada 12 Juli 2010. Awal usaha ini bermula dari kunjungan Radit ke rumah Gandhi. Pada satu malam mereka berdua merasa kelaparan dan ingin makan. Tapi cuaca dingin membuat mereka malas keluar. Radit kemudian berkata kepada Gandhi untuk memasak di rumah saja daripada pergi keluar, karena Radit tahu kalau Gandhi hobi memasak.

Gandhi pun menyanggupi permintaan Radit. Awalnya sempat terpikir untuk membuat mi instan, tapi menurut mereka berdua menu tersebut terlalu mainstream.

Gandhi pun kemudian terpikir stok bahan ramen yang ada di rumahya. Dia kemudian menawarkan kepada Radit untuk membuat ramen dan ide tersebut disetujui. Tanpa persiapan lama, ramen yang dibuat Gandhi matang dan dalam waktu singkat pula ramen tersebut habis disantap.

“Enak ramennya. Mengapa nggak sekalian kamu jualan ramen saja?” komentar Radit seperti dikutip dari myoyeah, Selasa (17/2/2015)

Awalnya Gandhi hanya menganggap ucapan Radit tersebut sebagai guyonan saja. Tapi Radit mengatakan bahwa dia serius dengan ucapan tersebut.

Gandhi pun jadi berpikir tentang komentar Radit soal ramen buatannya. Setelah berdiskusi, akhirnya mereka berdua sepakat untuk patungan dan membuka usaha ramen. Warung ramen tersebut mereka beri nama Kumaramen.

“Nama Kumaramen diambil dari bahasa Jepang yang artinya beruang (kuma). Saya sendiri biasa dipanggil Papa Bear di kampus. Nama Kumaramen juga merupakan gabungan dari nama kami berdua,” kata Gandhi.

Ketika sedang semangat menjalankan usaha, karena masih baru, mereka berdua langsung mendapat cobaan telak. Waktu itu mereka berdua membuka warung tenda di dekat rumah Gandhi di pinggir jalan. Peralatan masak, terpal, dan perkakas di simpan di dalam gerobak. Mereka berpikir aman, karena lokasi tak jauh dari rumah Gandhi. Pada satu hari ternyata gerobak mereka diangkut oleh polisi pamong praja Bandung.

“Waktu itu sempat down juga. Usaha baru mulai sudah dapat cobaan seperti ini. Tapi tidak kepikiran untuk berhenti dari usaha ini sih. Sebab, orangtua selalu bilang kalau ada masalah harus dihadapi. Tidak boleh menyerah dan tidak boleh kabur dari masalah. Lebih baik gagal mencoba daripada hidup tapi tak pernah mencoba. Itu pelajaran dari orang tua yang saya pegang,” kata Gandhi.

Perlahan mereka berdua mulai membangun bisnisnya. Mereka mulai menyicil membeli peralatan masak dan memindah lokasi usaha di halaman depan rumah orang tua Gandhi.

Perlahan usaha mereka mulai ramai. Untuk mempercepat akselerasi bisnis dan menarik pengunjung, Kumaramen membuat sebuah kompetisi. Bagi pembeli yang bisa menghabiskan ramen dengan level kepedasan tertentu, pelanggan tersebut tak perlu membayar ramen dan minumannya.

Cara ini ternyata cukup menari perhatian dan banyak orang datang mencoba. Ada yang berhasil makan hingga level 100 ke atas, tapi lebih banyak yang gagal dan tetap membayar ramen yang mereka makan.

Beberapa yang nekat mencoba level kepedasan tertinggi bahkan berkomentar bahwa lidahnya seperti terbakar setelah makan ramen pedas tersebut. Promo ini ternyata cukup efektif untuk meningkatkan awareness pelanggan terhadap produk Kumaramen yang akhirnya identik dengan ramen pedas.

Promo lain yang mempercepat akselerasi bisnis dari Kumaramen adalah adanya buzzer dari artis yaitu Indra Bekti. Gandhi adalah penggemar Indra Bekti dan suatu saat Indra membeli ramen di tempatnya.

Dari situlah Gandhi mengajak Indra untuk bekerja sama dan ternyata disetujui. Akhirnya partner bisnis Gandhi dan Radit bertambah dengan Indra. Meskipun tidak mengurusi manajemen dan hanya membantu buzzing, tapi masuknya Indra membantu percepatan bisnis Kumaramen.

Saat ini Kumaramen sudah mempunyai 2 kedai yaitu di daerah Cimanuk dan Cipaganti. Mereka tidak mengatakan berapa omzet per bulan untuk kedua gerai tersebut. Tapi untuk gerai Cimanuk menjual sekitar 50 mangkuk per hari, sedangkan Cipaganti 30 mangkuk angka pembelian berkisar Rp 25 ribu-Rp 30 ribu per pelanggan.

Mendekati tahun kelima ini, bisnis Kumaramen relatif stabil, meskipun masih ada beberapa kendala.

Menurut Gandhi, mempertahankan sumber daya manusia adalah kendala pertama. Karyawan kadang masuk dan keluar yang membuat dirinya harus sabur memberi pelatihan kepada karyawan baru agar standar operasi yang diterapkan bisa dijalankan dengan baik.

Kendala kedua adalah masalah harga bahan untuk ramen mereka. Beberapa bahan ramen Kumaramen masih didatangkan dari Jepang, agar rasanya mendekati rasa ramen di Jepang. Naiknya beberapa bahan ramen yang mereka gunakan berpengaruh terhadap pengeluaran dan pemasukan mereka. Dua kendala ini yang kadang menggangu bisnis dari Kumaramen.

Meski ada kendala yang menghadang, tapi Gandhi dan Radit tak ingin menyerah. Saat mulai usaha pun mereka sudah mendapat cobaan yang cukup berat dan bisa melaluinya. Mereka pun yakin bahwa kendala yang lain bakal bisa mereka lewati.

(ang/ang)