Pria Ini Ajak Eks PSK Dolly Jadi Pengusaha Batik

Pria Ini Ajak Eks PSK Dolly Jadi Pengusaha Batik

- detikFinance
Selasa, 31 Mar 2015 07:13 WIB
Pria Ini Ajak Eks PSK Dolly Jadi Pengusaha Batik
Foto: Dalu Nuzlul Kiram (Dana-detikFinance)
Jakarta - Suksesnya sebuah bisnis tak harus melulu dilihat dari besarnya omzet usaha yang diperoleh. Bagi Dalu Nuzlul Kiram, nilai keberhasilan bisnis adalah seberapa besar bisnis itu bermanfaat bagi orang banyak.

Pemahamannya soal keberhasilan bisnis bukan hanya sebatas konsep atau pandangan hidup belaka. Dalu tak mendirikan usaha sendiri, pria 26 tahun ini justru sibuk mendorong warga yang tinggal di Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur untuk berwirausaha bersamanya.

Dalam obrolan ringan dengan detikFinance, Selasa (31/3/2015), Dalu mengungkapkan, ide awal bisnisnya adalah untuk membangkitkan kembali kawasan Dolly yang sempat terpuruk pasca ditutup.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Idenya adalah memberdayakan masyarakat untuk memiliki sumber pendapatan baru yang tidak berbenturan dengan nilai sosial. Jadi masyarakat tidak lagi bertumpu pada bisnis itu (seks komersial) tetapi pada bisnis ini (Usaha UMKM)," kata Dalu.

Idenya tersebut direalisasikan lewat organisasi yang dipimpinnya langsung bernama Melukis Harapan.

Tahap awal, pria yang akrab disapa Dalu Dolly ini menggandeng sejumlah warga yang terdampak penutupan lokalisasi hingga eks PSK yang semula menggantungkan hidupnya pada bisnis gelap tersebut.

"Warga ada banyak, kalau ditotal sekitar 4 rukun tetangga (RT) termasuk orang dewasa, ibu-ibu, dan anak-anak. Ada juga eks PSK, tapi baru 5 orang yang mau kita ajak," tuturnya.

Untuk memulai usahanya ini, Dalu hanya bermodal kepercayaan dari pemerintah daerah untuk memberdayakan masyarakat tersebut lewat berbagai kegiatan pembinaan usaha yang nilai investasi tak terhingga.

Kepercayaan yang dibangunnya berbuah donasi, dan bantuan peralatan hingga bahan baku untuk melancarkan kegiatan pemberdayaan warga terdampak, dan eks PSK. Para eks PSK dan warga memulai usaha mikro kecil dan menengah yang dirintis oleh mereka sendiri.

"Kalau ditanya nilainya, saya bilang tidak terhingga. Karena ini bentuknya bantuan peralatan, pelatihan dan donasi yang disalurkan langsung ke warga binaan. Dananya dari instansi maupun perusahaan. Jadi bisa dibilang modal kami hanya kepercayaan," tutur Dalu dengan logat Jawa yang kental.

Usaha nyata yang sudah dimulainya sejak akhir Juni 2014, atau sekitar 1 minggu sejak ditutupnya lokalisasi Dolly pada 18 Juni 2014. Kini usaha kerasnya mulai membuahkan hasil.

Warga terdampak bahkan eks PSK yang semula kehilangan sumber pendapatan kini mulai bernafas kembali dengan sumber pendapatan barunya. Contohnya, ada seorang eks PSK binaannya yang mampu memproduksi kain batik dengan nilai ekonomis yang tinggi.

"Mereka punya produk batik namanya batik Jarak (diambil dari nama tempat yang masih di sekitar Dolly), itu laku sampai Rp 300.000 per potong. Ternyata kalau diberdayakan mereka bisa mengeluarkan bakatnya. Sayang sebelumnya mereka dijerumuskan orang tidak bertanggung jawab," keluhnya kesal.

Selain produk kain batik, kegiatan usaha level UMKM yang berhasil dilakoni warga sekitar pun semakin bervariasi, yang paling banyak adalah produk panganan dan kerajinan kesenian.

Kegiatan lain yang dilakukannya pula adalah dengan melakukan pengemasan ulang produk-produk yang dihasilkan warga terdampak ini, agar lebih menarik dan mudah menarik minat pembeli.

Dari kegiatan usahanya ini, setiap kelompok warga binaan bisa mendapat omzet hingga Rp 5 juta per bulan. "Belum besar, tetapi itu masih bisa meningkat lebih besar lagi, bila kita konsisten memberi motivasi," tuturnya bangga.

Dari hasil penjualan dan keuntungan usaha, Dalu mengembalikannya lagi ke pada warga binaan untuk dimanfaatkan kembali sebagai tambahan modal usaha.

Kerja keras yang ditekuninya selama kurang lebih 10 bulan ini pun diganjar buah manis. Dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015 yang diselenggarakan PT Bank Mandiri (Persero), Dalu bersama Organisasi Melukis Harapan diganjar penghargaan sebagai salah satu pemenang.

Ia pun dipercaya untuk meraih tambahan modal langsung dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar Rp 100 juta, yang juga membagikan sekitar Rp 500 juta kepada 5 orang pengusaha muda yang dianggap kegiatannya paling berpengaruh kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Sehingga, dari acara itu saja, Dalu berhasil membawa pulang dana segar hingga Rp 200 juta. Besarnya uang yang dibawa pulang tidak dianggapnya sebagai hadiah yang membahagiakannya.

"Justru kepercayaan mitra dan warga binaan yang semakin besar adalah hadiah terbesar untuk saya dan Melukis Harapan. Karena, berkat kemenangan ini kepercayaan berbagai pihak kepada kami pun semakin meningkat," tuturnya dengan suara serak menahan haru.

Konsisten dengan ide bisnisnya semula, Dalu pun kembali menginvestasikan dana hasil kemenangannya tersebut untuk dijadikan modal tambahan oleh para warga binaannya.

Dari kemenangan ini, dirinya akan mengajak warga binaannya ini untuk melakukan sebuah lompatan bisnis dari yang semula hanya bersifat sosial menjadi lebih profesional.

"Keterampilan sudah mereka miliki, kemampuan menjalankan usaha juga sudah mereka kuasai. Sekarang tinggal kita mengajak untuk melakukan sebuah lompatan besar dalam sejarah usaha mereka untuk dikelola lebih profesional," paparnya.

Ia akan mengembangkan kawasan Dolly menjadi kawasan wisata terintegrasi yang bisa melibatkan lebih banyak bidang usaha di dalamnya. Ia menyebut, ide yang terpikirkan olehnya adalah menjadikan Dolly sebagai kawasan wisata sejarah dengan menjadikan sejumlah titik di Dolly sebagai wahana wisatanya.

Untuk merealisasikannya, akan dimanfaatkan gedung-gedung wisma eks lokalisasi sebagai titik wahana wisatanya. Dalam hal ini Dalu mendapat bantuan dari Pemerintah Daerah setempat.

Pemerintah Kota Surabaya telah membeli 12 wisma bekas lokalisasi Dolly. Pemerintah Kota Surabaya sebelumnya juga telah membeli satu wisma terbesar di Dolly, yakni Wisma Barbara.

"Jadi ini akan dikembangkan jadi kota wisata edukasi sejarah. Bangunan-bangunan wisma dijadikan wahana yang bisa difungsikan jadi semacam museum atau menjadi pusat kuliner dan oleh-oleh. Begitu ide besarnya nanti," sebut dia.

Dengan demikian, nantinya akan lebih banyak kegiatan usaha yang bisa dilakoni masyarakat. Dari semula industri yang berbasis produksi dan perdagangan bisa bertambah ke sektor industri yang berbasis jasa.

"Misalnya jasa pemandu wisata atau transportasi. Kalau sudah jadi kota wisata, bidang usahanya pasti akan semakin banyak," katanya.

(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads